Di balik kuatnya identitas seni pesisir Aceh Jaya, terdapat sebuah tradisi yang lahir dari kreativitas seorang tokoh kampung dan terus dijaga puluhan tahun oleh komunitas kecil namun berkomitmen: Dikee Pam. Seni yang kini dikenal sebagai salah satu ciri budaya Panga ini memiliki riwayat yang jelas dan terjaga, berawal dari tahun 1951 di Gampong Tuwi Eumpeuk, Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya. Dari sebuah kampung sederhana di tepian laut itulah denyut irama Dikee Pam pertama kali menggema, berkat kreasi seorang seniman karismatik bernama Tgk. Hamzah—sosok yang hingga kini dihormati sebagai pencipta tradisi tersebut.
Tgk. Hamzah, yang wafat pada tahun 1978, dikenal sebagai pribadi religius dengan kepekaan seni yang tinggi. Ia memadukan nilai-nilai keagamaan, syair-syair bermakna, serta ritme rebana yang dinamis hingga menghasilkan bentuk kesenian baru yang kemudian diberi nama Dikee Pam. “Pam” sendiri merujuk pada sebutan khas masyarakat setempat untuk pola ketukan yang menjadi ciri tradisi ini. Dalam tangan Tgk. Hamzah, Dikee Pam tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga sarana dakwah, pendidikan moral, serta wadah kebersamaan bagi warga Tuwi Eumpeuk.
Keistimewaan Dikee Pam bukan hanya terletak pada iramanya, tetapi pada kesinambungan tradisi yang dijaga sepenuhnya oleh satu komunitas inti. Sejak pertama kali diciptakan pada 1951 hingga kini, tradisi ini hanya memiliki satu kelompok pelestari yang aktif: para seniman yang tergabung dalam Sanggar Aneuk Nanggroe. Mereka adalah putra-putri Tuwi Eumpeuk yang belajar langsung dari generasi awal, menjaga kemurnian bentuk, pola ketukan, dan syair yang diwariskan oleh Tgk. Hamzah serta para penerusnya. Kesetiaan inilah yang menjadikan Dikee Pam tetap otentik, tidak tergerus oleh perubahan zaman meski kelompoknya tidak pernah berpindah dari kampung tempat ia lahir.












