Scroll untuk baca artikel
Wisata

Rumoeh Atjeh: Jejak Kearifan yang Bertahan di Tengah Zaman

×

Rumoeh Atjeh: Jejak Kearifan yang Bertahan di Tengah Zaman

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi.

Di banyak sudut perkampungan Aceh, terutama di wilayah pedesaan Aceh Besar, Pidie, hingga Aceh Utara, terdapat satu simbol budaya yang terus hidup meski perlahan digeser oleh bangunan modern—rumoeh Atjeh, rumah adat berbentuk panggung yang menyimpan lapisan makna tentang kehidupan, alam, dan spiritualitas orang Aceh. Berdiri di atas tiang-tiang kayu, dengan atap rumbia yang melebar dan orientasi bangunan yang penuh perhitungan, rumoeh Atjeh bukan sekadar bangunan tempat berteduh, tetapi warisan arsitektur penuh nilai yang bertahan lebih dari seribu tahun.

 

Table of Contents

Keunikan rumoeh Atjeh berawal dari bentuknya yang panggung. Konstruksi ini lahir dari pemahaman leluhur terhadap kondisi alam Aceh yang rawan banjir dan memiliki kelembapan tinggi. Lantai yang ditinggikan berfungsi menjaga bangunan tetap kering, sekaligus melindungi penghuni dari binatang buas di masa lampau. Namun lebih jauh dari itu, bentuk panggung mencerminkan filosofi “meuasa, meusikureung, meugoe”—hidup yang tertib, teratur, dan memenuhi adab dalam tatanan sosial.

 

Rumoeh Atjeh dipadukan oleh tiga ruang utama: seuramoe keuë (serambi depan), seuramoe likôt (serambi belakang), dan rumoh inong (ruang tengah). Ketiganya tersusun dalam satu garis lurus, menciptakan alur kehidupan yang merepresentasikan siklus sosial masyarakat. Seuramoe keuë menjadi ruang penerima tamu laki-laki, tempat musyawarah kecil, hingga lokasi kenduri sederhana. Sementara itu, rumoh inong adalah jantung rumah, ruang privat untuk keluarga, dan tempat tersimpannya benda-benda penting. Di bagian paling belakang, seuramoe likôt menjadi lokasi berkumpul keluarga inti, mempersiapkan hidangan, hingga ruang kerja sehari-hari.

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca