Scroll untuk baca artikel
BeritaHeadline

Ilmiza Ajak Perempuan Aceh Berani Rebut Kepercayaan Rakyat

×

Ilmiza Ajak Perempuan Aceh Berani Rebut Kepercayaan Rakyat

Sebarkan artikel ini

BANDA ACEH – Ketua Komisi VII DPRA H. Ilmiza Saaduddin Djamal, MBA mengajak perempuan Aceh tidak hanya menjadi penonton dalam politik, tetapi berani mengambil peran dan mempersiapkan diri menghadapi Pemilu 2029.

Hal itu disampaikan Ilmiza saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pendidikan Politik bagi Perempuan di Hotel A. Yani Banda Aceh 10-11 Agt 2026.

“Perempuan harus hadir dalam politik. Jangan hanya menjadi penonton, tetapi harus berani mengambil peran dalam menentukan arah kebijakan,” tegas Ilmiza.
Menurutnya, politik bukan sekadar pemilu atau perebutan kekuasaan, tetapi merupakan instrumen untuk menentukan kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

“Politik adalah seni mengelola kepentingan, membangun kesepakatan dan mengambil keputusan demi kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Ia menyebut keputusan politik sangat menentukan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, stabilitas harga kebutuhan pokok, pembangunan infrastruktur, kesejahteraan serta berbagai kebutuhan dasar masyarakat lainnya.

Terkait strategi memenangkan Pemilu 2029, Ilmiza menekankan pentingnya mengenali peta politik, melakukan segmentasi pemilih, membangun jaringan, memahami kebutuhan masyarakat dan menjaga integritas.

“Kepercayaan rakyat tidak hadir secara instan. Kepercayaan dibangun melalui kerja nyata, kedekatan dengan masyarakat, integritas, komunikasi yang baik serta kemampuan memahami dan memperjuangkan kebutuhan mereka,” katanya.

Ia juga menyebut tiga faktor yang memengaruhi pilihan masyarakat, yakni pendekatan sosiologis, psikologis dan rasional.
Selain itu, calon politik harus membangun mesin politik yang solid, hadir di tengah masyarakat jauh sebelum pemilu, memiliki program yang jelas, memahami data pemilih serta menjaga amanah dan integritas.

Ilmiza menutup paparannya dengan mengingatkan bahwa kekuasaan merupakan amanah dan perbedaan pilihan politik tidak boleh menjadi alasan untuk berlaku tidak adil.

“Kekuasaan adalah amanah, bukan kepentingan pribadi. Perbedaan pilihan politik tidak boleh menjadi alasan untuk berlaku tidak adil,” pungkasnya.

Baca Juga :  Mualem Lantik Tiga Kepala SKPA, Tekankan Percepatan Kinerja dan Serapan Anggaran

Ia menegaskan, pada akhirnya politik yang harus menjadi patron utama bagi seorang muslim adalah politik yang dicontohkan Rasulullah SAW, yakni politik yang menjunjung tinggi kejujuran, amanah, keadilan, kecerdasan, kasih sayang dan kemaslahatan umat.

“Politik harus menjadi jalan untuk menghadirkan kemaslahatan, bukan sekadar mengejar kekuasaan. Rasulullah SAW telah memberikan teladan bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus dijalankan dengan kejujuran, keadilan dan tanggung jawab,” tutup Ilmiza.

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca