Linimedia.id — Komunitas Peduli Etnik Aceh (KPEA) memperingati satu tahun berdirinya organisasi dengan menggelar DEDIKASI Volume 1 pada 29–31 Agustus 2026. Kegiatan tersebut mengangkat persoalan keberlanjutan pernikahan adat Aceh di tengah perubahan zaman.
Mengusung tema “Menjaga Tradisi, Merangkul Modernitas dalam Pernikahan Adat Aceh”, kegiatan tersebut dibuka oleh Wali Kota Banda Aceh dan diisi dengan pameran, seminar serta pertunjukan budaya.
Ketua KPEA, Nelisma, mengatakan peringatan satu tahun organisasi menjadi momentum untuk memperkuat peran KPEA dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai budaya Aceh.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan tradisi, tetapi juga perlu membuka ruang bagi generasi muda untuk memahami dan meneruskannya sesuai perkembangan zaman.
“Kita harus mampu menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur Aceh, sekaligus terbuka terhadap perkembangan zaman. Yang paling penting adalah bagaimana generasi muda ikut mencintai, memahami dan meneruskan budaya Aceh,” ujar Nelisma.
Ia mengatakan KPEA akan mendorong kolaborasi dengan pemerintah, DPR Aceh, lembaga kebudayaan, tokoh adat, budayawan, akademisi serta masyarakat dalam memperkuat pelestarian budaya Aceh.
Sementara itu, Ketua Panitia DEDIKASI Volume 1 yang juga Sekretaris KPEA, Della Shaffinas, menjelaskan DEDIKASI merupakan singkatan dari Dialog–Etnik–Dalam–Dinamika–Tradisi.
Menurut Della, kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang edukasi dan dialog mengenai adat dan budaya Aceh, khususnya di tengah perubahan sosial yang berlangsung saat ini.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang edukasi dan dialog budaya, memperkuat identitas Aceh, serta mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian adat dan budaya,” ujarnya.
DEDIKASI Volume 1 menghadirkan tiga agenda utama. Pertama, pameran “Pesona Wastra dalam Upacara Pernikahan Adat Aceh” yang menampilkan kekayaan kain dan busana dalam tradisi pernikahan Aceh.
Agenda berikutnya adalah seminar “Upacara Pernikahan Adat Aceh dalam Dinamika Zaman” yang membahas keberadaan tradisi pernikahan Aceh di tengah perkembangan masyarakat.
Seminar tersebut diikuti sekitar 60 peserta dari berbagai unsur, mulai dari keuchik, Tuha Peut, budayawan, wedding organizer, MC, mahasiswa hingga masyarakat umum.
Diskusi menghadirkan Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Prof Dr Drs Yusri Yusuf, M.Pd., ahli sejarah Nurdin AR, serta perwakilan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Ustazah Rahmatillah, S.Ag., M.Pd.
Rangkaian kegiatan juga diisi Live Show “Pesona Perangkat Pernikahan Adat Aceh”. Agenda tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali berbagai perangkat dan unsur tradisi yang melekat dalam prosesi pernikahan masyarakat Aceh.
Melalui DEDIKASI Volume 1, KPEA ingin menjadikan peringatan satu tahun organisasi bukan sekadar seremoni, tetapi sebagai ruang untuk mempertemukan pelaku adat, generasi muda dan masyarakat dalam membicarakan keberlanjutan budaya Aceh.












