Sementara itu, Dr. Muchlis Muhammad Hanafi, MA dalam paparannya bertajuk “Membangun Aceh Bermartabat, Aktualisasi Nilai-Nilai Islam di Era Digital,” menilai transformasi digital bisa menjadi peluang besar bagi dakwah, namun juga rawan disalahgunakan.
“Transformasi digital dapat menjadi sarana dakwah yang luar biasa, namun juga dapat menjadi pintu fitnah, penyebaran kebohongan, radikalisme berbasis algoritma, dan krisis adab di ruang publik. Dampak tersebut juga dapat memengaruhi kehidupan di Aceh yang dikenal sebagai Serambi Mekkah,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemuliaan Aceh sejati bukanlah pada simbol-simbol lahiriah, tetapi pada pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Martabat sejatinya tidak diwariskan, namun dibangun setiap hari melalui iman, ilmu, dan amal,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, kafilah Aceh Besar turut hadir, di antaranya Ustaz Zaini, SH, M.Hum, Ustaz Munandar, S.Pd, M.Pd, Tgk. Fauzi Lamtruba, dan Yusri, VE, ST.***












