
Keberhasilan tersebut, kata Illiza, tercermin dari tingginya serapan lulusan ke dunia kerja yang mencapai 84,9 persen, sebuah capaian yang menunjukkan kualitas pendidikan vokasi semakin relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa persaingan dunia kerja akan terus berkembang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Banda Aceh pada akhir 2025 masih berada di angka 7,30 persen. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan kompetensi harus terus dilakukan agar generasi muda mampu bersaing.
“Saya berharap anak-anak kita tidak hanya bercita-cita menjadi job seeker, tetapi juga berani menjadi job creator. Bekal keterampilan yang dimiliki harus dipadukan dengan kreativitas, kemampuan memanfaatkan teknologi digital, serta semangat berwirausaha agar mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain,” katanya.
Ia juga mengajak para lulusan untuk bersiap menghadapi transformasi industri menuju green industry atau industri hijau yang kini menjadi arah pembangunan global. Menurutnya, lulusan SMK SMTI memiliki peluang besar menjadi bagian dari perubahan tersebut melalui inovasi dan penguasaan teknologi yang ramah lingkungan.
Lebih lanjut, Illiza menegaskan bahwa Pemerintah Kota Banda Aceh terus menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas utama. Melalui program CERDAS (Ciptakan Generasi Pintar dan Berkualitas) serta Banda Aceh Academy, pemerintah menghadirkan ruang bagi generasi muda untuk meningkatkan kapasitas, baik di bidang vokasi, literasi digital, kewirausahaan, maupun ekonomi kreatif.












