LINI MEDIA – Kerajinan kasab Aceh terus menunjukkan eksistensinya sebagai warisan budaya bernilai tinggi sekaligus berdaya saing ekonomi. Di Aceh Barat, tradisi ini tetap hidup melalui tangan-tangan terampil para pengrajin lokal yang menjaga keasliannya dari generasi ke generasi.
Salah satu pelaku usaha yang konsisten melestarikan kasab adalah Ny. Ema Mutiara Deka. Usaha yang dirintis sejak tahun 2000 itu tidak hanya bertujuan menambah penghasilan keluarga, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Keterampilan menyulam kasab yang dimilikinya diwariskan secara turun-temurun dari orang tua. Bagi pelaku usaha ini, kasab bukan sekadar produk bernilai jual, melainkan juga media ekspresi seni dan identitas budaya Aceh yang harus dijaga keberlanjutannya.
Dalam proses produksinya, kerajinan kasab menggunakan bahan utama berupa kain beludru dan kain bridal yang dipadukan dengan benang emas, perak, serta benang warna-warni berkualitas tinggi. Pemilihan bahan tersebut memberikan kesan mewah dan elegan, sekaligus mampu menopang sulaman tanpa merusak tekstur kain.
Pembuatan kasab masih dilakukan secara manual. Proses dimulai dari menggambar motif pada kain, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan kain di atas meja kayu sebelum memasuki tahap penyulaman tangan. Waktu pengerjaan bervariasi, mulai dari satu minggu hingga satu bulan, tergantung tingkat kerumitan produk.
Motif yang digunakan pun sarat makna filosofis. Motif Pucok Rebung melambangkan harapan dan pertumbuhan, Pinto Aceh mencerminkan kerendahan hati serta keterbukaan, sedangkan Sulubayung sebagai motif khas Aceh Barat menggambarkan keindahan alam dan keharmonisan kehidupan.












