Scroll untuk baca artikel
Wisata

Lebih dari Anyaman: Kupiah Riman sebagai Identitas Kearifan Aceh

×

Lebih dari Anyaman: Kupiah Riman sebagai Identitas Kearifan Aceh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi.

 

Kupiah riman juga erat dengan konsep kepemimpinan. Di tengah masyarakat Aceh lama, seorang lelaki tidak dihormati karena kekayaan, melainkan karena kearifan. Orang yang dianggap bijak akan diminta memberikan nasihat dalam kenduri, menentukan hari baik menikah, hingga memutuskan masalah kampung. Orang seperti ini biasanya memakai kupiah riman sebagai penanda tidak formal. Jadi kupiah riman ialah simbol legitimasi sosial, bukan simbol politik.

Table of Contents

Ilustrasi.

Baru pada masa modern, kupiah riman mulai dijadikan cinderamata, aksesori budaya, dan produk ekonomi kreatif. Banyak toko souvenir menjualnya kepada wisatawan. Ini memberi keuntungan ekonomi, namun juga risiko. Bila kupiah hanya dijadikan barang dagangan, nilai filosofi yang menyertainya dapat hilang. Orang menganggap kupiah riman sebagai benda dekorasi, bukan identitas hidup.

 

Namun ekonomi kreatif tidak harus menghilangkan nilai. Sebaliknya, ia bisa menjadi alat pelestarian jika dilakukan dengan benar. Produk kupiah riman yang dijual harus disertai penjelasan tentang maknanya. Pengrajin harus dihargai dengan harga layak, bukan ditekan untuk memproduksi cepat. Pemerintah, komunitas budaya, dan pelaku industri kreatif bisa bekerja sama mendorong regenerasi pengrajin melalui kelas pelatihan dan apresiasi karya.

 

Aceh memiliki peluang besar menjadikan kupiah riman bagian dari gaya hidup modern. Ia bisa dikembangkan sebagai aksesori resmi dalam acara keagamaan, pertemuan adat, bahkan mode sehari-hari. Namun yang paling penting, nilai kesederhanaan, kearifan, dan kecerdasan moral harus tetap menjadi identitas yang melekat pada kupiah tersebut.

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca