Kupiah riman adalah pengingat bahwa budaya hidup bukan karena dikenang, tetapi karena digunakan. Ia harus tetap berada di kepala para lelaki Aceh—di dayah, di sawah, di meunasah, dan dalam pertemuan sosial. Selama kupiah riman terus dipakai, nilai-nilai kearifan itu akan tetap tertanam, mengalir dari generasi ke generasi seperti anyaman rotan yang menyatu membentuk mahkota kesederhanaan.(Adv)












