“Kami menyatukan suara untuk off-bid aplikasi, dari jam 11:00 – 14:00,” tegas Irawan dalam pernyataan resminya.
Aksi tersebut dipilih sebagai bentuk protes damai atas kebijakan aplikasi yang dianggap semakin menekan para pengemudi. Mereka berharap, langkah kolektif ini mampu menarik perhatian perusahaan agar segera melakukan evaluasi terhadap sistem yang berjalan di lapangan.
Dalam kopdar tersebut, hadir tujuh komunitas besar ojol Banda Aceh, yaitu: DOA, GAR, NANGGROE, GODA, GOBA, GR ANTARA, dan SRK. Keikutsertaan seluruh komunitas memperkuat legitimasi suara dan tuntutan yang diajukan.
Selain menyusun tuntutan, para pengemudi juga menyepakati pembentukan wadah perjuangan baru bernama Aliansi Ojol se-Aceh. Langkah ini diambil untuk membangun solidaritas antarkomunitas di seluruh wilayah Aceh, demi memperjuangkan hak-hak para driver secara lebih terorganisir.
“Dengan penuh kesadaran, akan membentuk aliansi ojol se-Aceh, sehingga terbentuknya ikatan ojol yang lebih kuat dan kompak di Aceh,” tulis mereka dalam kesepakatan akhir pertemuan.***












