Scroll untuk baca artikel
Wisata

Pisang Sale: Jejak Tradisi Pengasapan di Tanah Rencong

×

Pisang Sale: Jejak Tradisi Pengasapan di Tanah Rencong

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi.

 

Tungku pengasapan atau yang sering disebut saloƫ oleh masyarakat setempat terbuat dari kayu-kayu keras yang tahan panas. Bahan bakar yang digunakan pun tidak sembarangan; kayu rambutan, kayu nangka, atau beberapa jenis kayu lokal lain dipilih karena memberikan aroma asap yang lembut dan tidak menyengat. Pisang disusun di atas rak-rak bambu yang dipasang melintang di atas tungku. Di sinilah proses yang melelahkan namun penuh kesabaran dimulai.

Table of Contents

 

Pengasapan bisa berlangsung antara 12 hingga 48 jam, tergantung tingkat kering yang diinginkan. Selama proses ini, api tidak boleh terlalu besar agar pisang tidak gosong, tetapi juga tidak boleh terlalu kecil agar proses pengeringan berjalan sempurna. Para pengrajin pisang sale biasanya mengambil giliran menjaga tungku, memeriksa bara, dan membalik pisang secara berkala. Aktivitas ini menciptakan suasana hangat yang khas, seolah pengasapan bukan hanya pekerjaan rumah tangga, melainkan ritual keluarga yang mempererat hubungan antaranggota.

Ilustrasi.

Hasil akhir dari proses panjang itu adalah pisang berwarna cokelat kemerahan dengan tekstur lentur dan rasa manis legit yang khas. Ketika digigit, ada sensasi karamel yang lembut berpadu dengan aroma asap kayu yang begitu otentik. Pisang sale bisa dinikmati langsung atau diolah kembali menjadi berbagai kudapan, seperti pisang sale goreng tepung, topping es krim, campuran granola, hingga bahan dasar kue modern. Fleksibilitas ini membuat pisang sale tak lekang dimakan zaman.

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca