Mereka berasal dari Aceh Utara, Bireuen, Simeulue, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Bener Meriah hingga Subulussalam.
Beberapa di antaranya adalah anak-anak. Shanum Salsabila Berutu, bayi berusia 1 tahun dari Subulussalam, didiagnosis tumor di paha. Ada juga M. Bilal El Shadid, bayi berusia 4 bulan dari Bireuen dengan gangguan usus besar.
Meski belum bisa bicara, wajah polos mereka menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk sehat tidak mengenal usia.
Daging dan Doa-doa yang Tak Pernah Putus
Lebaran kedua, barulah daging kurban tiba. Tak banyak, tapi cukup untuk membuat suasana sedikit lebih meriah. Pengurus membaginya secara adil, dan dapur rumah singgah hidup sejak pagi.
“Saya baru saja pulang kontrol dari RSUDZA, langsung ke sini, ke rumah singgah,” ujar Yunidar (49), pasien asal Bireuen yang mengidap komplikasi. Ia bersyukur, tak perlu memikirkan biaya sewa penginapan atau ongkos makan selama di Banda Aceh.
Dibuka untuk Siapa Saja
Michael Octaviano, Ketua Yayasan BFLF Indonesia, menegaskan bahwa rumah singgah selalu terbuka, bahkan saat hari besar seperti Idul Adha.
“Orang sakit tidak bisa menunggu sembuh setelah lebaran. Justru saat semua orang pulang, mereka membutuhkan tempat yang aman untuk beristirahat dan melanjutkan pengobatan,” ujar Michael.
Ia juga mengajak masyarakat untuk datang, sekadar menyapa untuk memberi kebahagiaan bagi para pasien. “Senyum, cerita, bahkan makanan rumah bisa menjadi obat penenang bagi mereka yang sedang menahan sakit,” tambahnya.
Sejak pertama berdiri, rumah singgah ini telah membantu 1.506 pasien dan pendamping dari seluruh Aceh. Di balik angka itu, ada cerita-cerita perjuangan yang tak terhitung seperti harapan seorang ibu, tangis seorang anak, pelukan yang tertunda, dan doa-doa panjang yang terus dipanjatkan.












