Sementara itu, Kepala UPTD Museum Aceh, Arif Arham, menyampaikan bahwa pameran ini juga menjadi bagian dari refleksi perjalanan panjang Museum Aceh yang telah berusia 110 tahun.
“Tema Rumoh Aceh dipilih karena kaya nilai sejarah, arsitektur, dan kearifan lokal. Kami berharap masyarakat dapat memahami secara lebih mendalam filosofi dan warisan identitas bangsa yang tercermin dalam rumah tradisional Aceh,” ujar Arif.
Ia menjelaskan bahwa pameran ini bukan hanya media apresiasi budaya, tetapi juga wadah mendorong partisipasi generasi muda melalui kegiatan kreatif dan edukatif. “Kami ingin menggugah ketertarikan publik terhadap arsitektur tradisional melalui media digital, sekaligus memperkuat peran Museum Aceh sebagai pusat pembelajaran dan diplomasi budaya,” jelasnya.
Salah satu peserta sosialisasi, Cut Zira Miranda, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru.
“Penjelasan tentang Rumoh Aceh sangat detail dan mudah dipahami. Semoga Museum Aceh terus berinovasi agar semakin banyak masyarakat mendapatkan edukasi budaya,” ungkapnya.
Melalui Pameran Rumoh Aceh, Museum Aceh berharap semakin banyak masyarakat terdorong untuk menjaga, mempelajari, dan merawat warisan budaya sebagai fondasi penting peradaban Aceh bagi generasi mendatang.(Adv)












