Di tengah hamparan budaya Aceh yang kaya dan berlapis makna, Tari Pho menempati ruang yang unik. Dari kejauhan, tarian ini terlihat seperti permainan ceria anak-anak yang menari sambil melagukan syair ringan. Namun, di balik gerak sederhana dan lantunan penuh semangat itu, tersimpan sejarah panjang yang membawa kita kembali ke masa ketika ratapan dan doa pernah menjadi inti dari tarian ini. Tari Pho adalah bukti bahwa seni dapat berubah sejalan dengan perjalanan zaman, namun tetap mempertahankan ruh keasliannya.
Masyarakat Aceh Barat mengenal Tari Pho sebagai permainan tradisional anak-anak. Mereka menarikan dengan lingkaran kecil, saling bergandengan, lalu bergerak berputar sambil menyanyikan lagu-lagu yang diwariskan turun-temurun. Keceriaan terpancar jelas—gelak tawa, ritme langkah yang spontan, hingga energi khas masa kecil menjadi warna utama dalam pertunjukan. Di sekolah-sekolah, di perkampungan, atau pada acara adat desa, tari ini sering menjadi simbol kebersamaan. Orang tua memandangnya sebagai media pembentukan karakter, sementara anak-anak menikmatinya sebagai sarana pelepas penat.
Namun sejarah Tari Pho tidak selalu seceria wajah para penarinya hari ini. Nama pho berasal dari kata peubae, yang berarti meratoh atau meratap. Pho juga berakar dari ungkapan penghormatan masyarakat Aceh dahulu kepada Yang Mahakuasa: Po Teu Allah, sebuah panggilan penuh takzim. Bahkan, penyebutan terhadap raja yang wafat—Po Teumeureuhom—mengandung makna keagungan dan duka. Artinya, sejak awal tarian ini lahir dari ekspresi emosional yang dalam: ratapan, pengakuan, dan doa yang ditujukan kepada kekuatan Ilahi.












