Dari hamparan dataran tinggi yang sejuk, aroma tanah basah, dan padang luas yang mengelilingi Takengon dan sekitarnya, lahirlah sebuah tradisi yang tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga simbol harga diri dan identitas masyarakat: Pacuan Kuda Tradisional Gayo. Di tengah modernisasi berbagai lini kehidupan, pacuan kuda ini tetap berdiri tegak sebagai salah satu ikon budaya yang menyatukan masyarakat lintas usia dan kampung. Setiap gelaran bukan hanya sebuah perlombaan, melainkan perayaan besar yang mempertemukan sejarah, keterampilan, dan kebanggaan kolektif.
Pacuan kuda di Tanah Gayo telah dikenal sejak awal abad ke-20—dan dari waktu ke waktu, tradisi ini tetap mempertahankan ciri khasnya: para joki cilik yang menunggang tanpa pelana. Pemandangan ini menjadi keunikan tersendiri dibandingkan pacuan di daerah lain yang lebih modern, karena dalam tradisi Gayo, keaslian dan kedekatan manusia dengan alam serta hewan piaraan menjadi nilai utama. Para joki cilik, yang rata-rata berusia 8 hingga 13 tahun, tumbuh dalam kultur berkuda sejak dini. Mereka tidak hanya belajar menunggang, tetapi juga menyerap nilai keberanian, ketegasan, dan kemampuan mengendalikan diri—sebuah pelajaran hidup yang sulit diperoleh dari ruang kelas.
Setiap tahun, terutama pada pagelaran yang bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia atau agenda budaya daerah, arena pacuan kuda di berbagai kecamatan di Aceh Tengah dipenuhi lautan manusia. Suasana itu sudah terasa sejak pagi: denting suara besi tapal kuda, sorakan masyarakat, hingga deretan kuda Gayo yang terkenal lincah dan kecil namun sangat gesit. Para pemilik kuda memperlakukan hewan-hewan ini layaknya anggota keluarga—dirawat dengan penuh disiplin, diberi makanan khusus, dan dipersiapkan secara fisik maupun mental untuk menghadapi arena berbentuk panjang dengan tanah padat yang menjadi saksi ketangkasan mereka.












