
Peran bahasa Aceh dalam dunia sastra juga tak bisa diabaikan. Berabad-abad lamanya, bahasa ini menjadi wadah berbagai karya besar seperti Hikayat Prang Sabi, Hikayat Malem Dagang, hingga syair-syair keagamaan yang ditulis para ulama masa lampau. Karya-karya tersebut bukan hanya dokumen sejarah, tetapi juga bukti kecakapan intelektual masyarakat Aceh dalam mengolah bahasa menjadi medium dakwah, pendidikan, dan hiburan. Sastra Aceh klasik mencerminkan betapa kuatnya fondasi budaya tulis dalam masyarakat ini.
Di tengah modernisasi yang semakin cepat, bahasa Aceh menghadapi tantangan yang tidak kecil. Perubahan gaya hidup, arus globalisasi, dan dominasi bahasa Indonesia serta bahasa asing membuat penggunaan bahasa Aceh di sebagian kalangan muda mulai menurun. Di beberapa daerah perkotaan, anak-anak lebih fasih berbahasa Indonesia daripada bahasa Aceh dalam percakapan sehari-hari. Meski demikian, kekhawatiran ini juga memunculkan gerakan kesadaran baru. Banyak komunitas lokal, akademisi, dan pegiat budaya yang mulai aktif melakukan revitalisasi bahasa melalui media sosial, buku, hingga kursus informal.
Upaya pelestarian ini menjadi bukti bahwa bahasa Aceh masih memiliki ruang hidup yang luas di hati masyarakat. Sekolah-sekolah di Aceh juga mulai mengintegrasikan pelajaran bahasa daerah sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal. Para orang tua pun semakin sadar akan pentingnya mewariskan bahasa ibu kepada anak-anak mereka, karena bahasa bukan hanya tentang kosa kata, tetapi juga tentang identitas, sejarah, dan rasa memiliki.












