Namun seperti bahasa daerah lainnya, keduanya menghadapi tantangan besar di era modern. Urbanisasi, digitalisasi, dan dominasi bahasa Indonesia menyebabkan generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa lokal dalam percakapan sehari-hari. Di beberapa tempat, Bahasa Jamee dan Bahasa Kluet mulai beralih fungsi menjadi bahasa orang tua, menciptakan kekhawatiran akan hilangnya kemampuan bertutur di masa depan.
Meski demikian, berbagai inisiatif pelestarian mulai tumbuh. Komunitas literasi, tokoh adat, kelompok seni, hingga pemuda gampong ikut bergerak mendokumentasikan kosakata, menulis kisah rakyat, serta mempopulerkan bahasa melalui media sosial dan seni pertunjukan. Kesadaran kolektif ini memperlihatkan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi rumah bagi identitas dan ingatan kolektif.
Bahasa Jamee dan Bahasa Kluet adalah dua pilar penting dari keragaman linguistik Aceh. Menjaganya berarti merawat cerita, nilai, dan sejarah masyarakatnya. Di tengah arus perubahan zaman, keduanya tetap menjadi pengingat bahwa jati diri budaya akan terus bertahan selama masyarakatnya memberi ruang bagi bahasa untuk hidup—bukan sekadar sebagai warisan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.(Adv)












