Linimedia.id | Divisi Reality Labs milik Meta kembali mencatat kerugian besar. Pada kuartal IV 2025, unit yang membawahi bisnis metaverse dan VR itu membukukan rugi operasional USD 6,02 miliar atau sekitar Rp 100 triliun, naik 21% secara tahunan.
Angka tersebut lebih buruk dari perkiraan analis yang sebelumnya memproyeksikan kerugian USD 5,67 miliar. Sepanjang kuartal itu, Reality Labs hanya membukukan pendapatan USD 955 juta, sedikit di atas estimasi USD 940,8 juta.
Kerugian ini menjadi yang terbesar sejak Meta mulai melaporkan kinerja Reality Labs secara terpisah pada kuartal IV 2020. Dengan tambahan tersebut, total kerugian divisi ini kini diperkirakan telah menembus USD 80 miliar sejak 2020, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Jumat (30/1/2026
Meski pendapatan Reality Labs tumbuh 13% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, kenaikan itu tidak mampu menahan laju pembengkakan biaya operasional. Secara bersih, Meta masih harus menutup selisih miliaran dolar setiap kuartal untuk menopang divisi tersebut.
Selama beberapa tahun, CEO Meta Mark Zuckerberg tetap mempertahankan investasinya pada visi metaverse, bahkan sampai mengganti nama perusahaan. Ia berulang kali menyatakan industri ini berpotensi bernilai miliaran hingga triliunan dolar setelah 2030.
Namun arah strategi mulai bergeser seiring melonjaknya fokus industri ke kecerdasan buatan. Minat pasar terhadap metaverse dinilai tidak tumbuh secepat ekspektasi, sementara investasi AI menunjukkan dampak bisnis yang lebih langsung.
Pada Desember lalu, muncul laporan Meta memangkas anggaran Reality Labs hingga 30%. Kebijakan itu dikonfirmasi awal tahun ini lewat pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 1.000 karyawan di divisi tersebut.
Meta menyatakan sebagian investasi dialihkan dari metaverse ke pengembangan kacamata pintar dan perangkat wearable berbasis AI. Perusahaan melihat adanya momentum pertumbuhan yang lebih menjanjikan di segmen tersebut.
Chief technology officer Meta Andrew Bosworth mengatakan Meta masih berinvestasi besar di teknologi VR. Namun ia mengakui pertumbuhan bisnis tersebut berjalan lebih lambat dari harapan manajemen


