Scroll untuk baca artikel
Headline

Bisnis Metaverse Mark Zuckerberg Hancur-hancuran, Rugi Rp 100 T

0
×

Bisnis Metaverse Mark Zuckerberg Hancur-hancuran, Rugi Rp 100 T

Sebarkan artikel ini
Foto:Dok Ist
Toronto, Canada - December 5, 2024: Meta Platforms apps on a smartphone - Facebook, Instagram, Messenger, WhatsApp, Meta View, Meta Horizon, Threads, Workplace, Business Suite.

Linimedia.id | Divisi Reality Labs milik Meta kembali mencatat kerugian besar. Pada kuartal IV 2025, unit yang membawahi bisnis metaverse dan VR itu membukukan rugi operasional USD 6,02 miliar atau sekitar Rp 100 triliun, naik 21% secara tahunan.

Angka tersebut lebih buruk dari perkiraan analis yang sebelumnya memproyeksikan kerugian USD 5,67 miliar. Sepanjang kuartal itu, Reality Labs hanya membukukan pendapatan USD 955 juta, sedikit di atas estimasi USD 940,8 juta.

Table of Contents

Kerugian ini menjadi yang terbesar sejak Meta mulai melaporkan kinerja Reality Labs secara terpisah pada kuartal IV 2020. Dengan tambahan tersebut, total kerugian divisi ini kini diperkirakan telah menembus USD 80 miliar sejak 2020, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Jumat (30/1/2026

Meski pendapatan Reality Labs tumbuh 13% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, kenaikan itu tidak mampu menahan laju pembengkakan biaya operasional. Secara bersih, Meta masih harus menutup selisih miliaran dolar setiap kuartal untuk menopang divisi tersebut.

Selama beberapa tahun, CEO Meta Mark Zuckerberg tetap mempertahankan investasinya pada visi metaverse, bahkan sampai mengganti nama perusahaan. Ia berulang kali menyatakan industri ini berpotensi bernilai miliaran hingga triliunan dolar setelah 2030.

Namun arah strategi mulai bergeser seiring melonjaknya fokus industri ke kecerdasan buatan. Minat pasar terhadap metaverse dinilai tidak tumbuh secepat ekspektasi, sementara investasi AI menunjukkan dampak bisnis yang lebih langsung.

Pada Desember lalu, muncul laporan Meta memangkas anggaran Reality Labs hingga 30%. Kebijakan itu dikonfirmasi awal tahun ini lewat pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 1.000 karyawan di divisi tersebut.

Meta menyatakan sebagian investasi dialihkan dari metaverse ke pengembangan kacamata pintar dan perangkat wearable berbasis AI. Perusahaan melihat adanya momentum pertumbuhan yang lebih menjanjikan di segmen tersebut.

Baca Juga :  Dirresnarkoba Polda Aceh Ajak Siswa SMA 2 Banda Aceh Jadi Pelopor Anti-Narkoba

Chief technology officer Meta Andrew Bosworth mengatakan Meta masih berinvestasi besar di teknologi VR. Namun ia mengakui pertumbuhan bisnis tersebut berjalan lebih lambat dari harapan manajemen

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca