Pertunjukan Dikee Pam memiliki struktur yang khas. Para pemain duduk melingkar, memegang rebana yang menghasilkan ketukan cepat dan berlapis, menciptakan energi ritmis yang segera menggugah perhatian. Vokal para pelantunnya mengisi ruang dengan lantunan syair bertema religius, hikmah kehidupan, hingga pujian kepada Rasul. Dinamika antara suara dan rebana menjadi kekuatan utama Dikee Pam, sebuah perpaduan yang memancarkan karakter kuat seni pesisir yang berakar pada spiritualitas dan kebersamaan.

Dalam konteks sejarahnya, Dikee Pam muncul sebagai refleksi kehidupan masyarakat Panga yang religius, komunal, dan penuh semangat. Tradisi ini hadir dalam berbagai momen penting seperti Maulid Nabi, peusijuk, penyambutan tamu, hingga perayaan adat di Tuwi Eumpeuk. Bagi masyarakat setempat, Dikee Pam bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari identitas kampung—suatu kebanggaan yang menunjukkan kekayaan budaya daerah mereka. Meski kelompoknya hanya satu, peran Sanggar Aneuk Nanggroe sangat besar dalam menjaga tradisi agar tetap hidup dan dikenal luas.
Tantangan tentu tidak sedikit. Minat generasi muda sering kali tersisih oleh hiburan modern, sementara dokumentasi tentang Dikee Pam tidak banyak ditemukan. Namun, komitmen para pelestarinya membuat seni ini tidak pernah benar-benar hilang. Latihan rutin, regenerasi internal, serta penampilan pada kegiatan budaya tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi menjadi cara mereka memastikan bahwa Dikee Pam tetap tumbuh di tanah kelahirannya.












