Kini, ketika upaya pelestarian budaya semakin mendapat perhatian, keberadaan Dikee Pam dari Tuwi Eumpeuk menjadi contoh bagaimana sebuah seni tradisi bisa bertahan berkat dedikasi komunitasnya. Sanggar Aneuk Nanggroe tidak hanya menjaga warisan Tgk. Hamzah, tetapi juga memperlihatkan bahwa tradisi lokal dapat menjadi sumber kebanggaan dan identitas yang kuat. Dikee Pam bukan sekadar suara rebana atau syair yang menggema—ia adalah jejak sejarah, semangat kebersamaan, dan kebanggaan sebuah kampung pesisir yang memilih untuk menjaga warisan leluhur dengan sepenuh hati.
Dari Tuwi Eumpeuk, ritme Dikee Pam terus hidup, mengalir menembus generasi, mengabarkan bahwa seni tradisi yang diciptakan 74 tahun lalu itu tetap menjadi denyut budaya Panga, Aceh Jaya. Sebuah warisan yang lahir sederhana, namun nilainya terus membesar sebagai bagian penting dari khazanah budaya Aceh.(Adv)












