“Kita tidak boleh lagi hanya menjadi pemasok bahan baku mentah, tetapi harus mulai mengambil bagian yang lebih besar sebagai pemain dan produsen parfum olahan berkualitas tinggi di tanah air,” tegas Illiza.
Ia menyebut, tantangan berikutnya adalah memastikan diplomasi dengan Grasse tidak berhenti sebagai wacana, melainkan diterjemahkan menjadi manfaat yang dirasakan langsung masyarakat. Karena itu, penguatan kapasitas dan pembangunan ekosistem industri di tingkat lokal menjadi titik penting kerja sama tersebut.

Dalam kerangka itu, kemitraan dengan Koperasi HIKMAH diharapkan menjadi jembatan untuk mengalirkan pengetahuan, alih teknologi, serta standar kelas dunia ke Banda Aceh. Langkah tersebut selaras dengan visi pembangunan Kota Banda Aceh 2025-2030 dan peta jalan menuju “Indonesian Perfume City”, dengan Banda Aceh diarahkan menjadi pusat pengolahan, inkubasi, pemrosesan produk jadi hingga perdagangan parfum dan kosmetik berbasis nilam yang berdaya saing di tingkat nasional maupun Asia Tenggara.
Kesepakatan tersebut dibangun melalui empat pilar utama, yakni pengembangan industri hilir nilam; pemberdayaan dan penguatan kapasitas SDM serta UMKM melalui pelatihan, upskilling dan reskilling; penciptaan lapangan kerja lokal; serta fasilitasi investasi, alih teknologi pemurnian atau fractionation, dan pembukaan akses pasar nasional maupun internasional. Dengan demikian, pengembangan nilam diarahkan tidak hanya menghasilkan produk, tetapi sekaligus menyiapkan manusia, memperkuat UMKM, membuka pekerjaan, menghadirkan teknologi, dan memperluas pasar.












