Illiza menegaskan Pemko Banda Aceh menjalankan strategi pengendalian inflasi secara terstruktur melalui pendekatan 4K, yaitu:
1. Keterjangkauan harga melalui pasar murah dan stabilisasi pangan
2. Ketersediaan pasokan dengan penguatan kerja sama antar daerah dan urban farming
3. Kelancaran distribusi melalui fasilitasi distribusi pangan dan pengamanan jalur logistik
4. Komunikasi efektif melalui pemanfaatan data harga dan edukasi belanja bijak
Ia menekankan kebijakan harus berbasis data dan dilakukan secara antisipatif serta presisi. “Kita tidak boleh menunggu harga melonjak baru bergerak. Stabilitas harga harus dijaga secara konsisten,” tegasnya.
*BI: Inflasi Dipicu Pangan, Intervensi Distribusi Efektif*
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh Agus Chusaini menyampaikan bahwa dinamika inflasi Banda Aceh saat ini masih didominasi oleh komoditas pangan bergejolak (volatile food), terutama cabai, bawang, beras, serta produk perikanan.
Ia menjelaskan, gangguan cuaca dan meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Ramadan menjadi faktor yang mendorong fluktuasi harga.
“Inflasi di Banda Aceh sangat dipengaruhi komoditas pangan segar. Karena itu, ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi menjadi kunci pengendalian,” ujarnya.
Agus juga menekankan pentingnya intervensi melalui Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) dan operasi pasar yang terbukti efektif menekan gejolak harga apabila dilakukan tepat sasaran, khususnya di pasar tradisional.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa Banda Aceh bukan daerah sentra produksi sehingga membutuhkan penguatan kerja sama pasokan dengan daerah lain.






