
Beberapa versi Do Da Idi bahkan berisi keluh kesah yang tersirat. Ada syair tentang beratnya hidup, ada doa agar keluarga dijauhkan dari marabahaya, dan ada ungkapan harapan agar anak kelak tidak mengalami kesulitan seperti orang tuanya. Menyanyikannya membuat ibu merasa didengar, setidaknya oleh sang anak yang perlahan terlelap di dekapan.
Tradisi ini juga menjadi momen intim yang memperkuat bonding. Dalam masa ketika banyak orang tua sibuk bekerja, momen menidurkan anak dengan Do Da Idi menghadirkan ruang yang lebih pribadi. Kontak mata, sentuhan lembut, dan irama suara menciptakan komunikasi penuh kehangatan yang tidak tergantikan oleh teknologi apa pun.
Menariknya, Do Da Idi juga membantu anak mengenal bahasa dan nada sejak dini. Syair-syair sederhana seperti “hai aneuk, jak that beumeutaloeh” atau “tutup matamu, sayang” membantu perkembangan fonetik anak. Ketika ia tumbuh dan mulai berbicara, sebagian kosakata pertama yang diucapkannya mungkin berasal dari nyanyian itu.
Banyak ibu Aceh mengatakan bahwa Do Da Idi membuat mereka merasa terhubung dengan leluhur. Setiap kali dinyanyikan, mereka seolah mendengar kembali suara nenek atau ibu mereka sendiri. Tradisi ini bukan hanya milik satu generasi, tetapi menjadi jembatan emosional lintas waktu. Di dalamnya ada memori, ada cinta, dan ada identitas keluarga yang terus hidup.
Pada akhirnya, Do Da Idi adalah cermin bagaimana Aceh memandang keluarga. Ia menunjukkan bahwa kasih sayang tidak harus diekspresikan secara besar-besaran. Cukup dengan suara lembut yang mengalun di malam hari, seorang ibu telah menciptakan dunia kecil yang aman bagi anaknya—sebuah dunia yang akan selalu ia rindukan ketika dewasa.(Adv)












