LM – Di tahun ini, Indonesia merayakan peringatan yang ke-78 dari hari kemerdekaannya. Di balik gemilangnya perayaan ini, tersembunyi rentetan sejarah kelam yang membentuk jiwa dan semangat bangsa ini. Seperti helai-helai daun di pohon, kenangan pahit dan perjuangan berdarah telah merajut lembaran masa lalu yang tidak boleh kita lupakan.
Momen ini menjadi panggung bagi kita untuk mengenang perjuangan pejuang bangsa yang gigih melawan penjajah yang meresap hingga ke tulang. Pertumpahan darah pejuang dan rakyat yang tak kenal lelah mengusir kekuatan kolonial menginspirasi kita tentang arti hak asasi dan pentingnya persatuan.
Di dalam kisah sejarah ini, ada wilayah yang memiliki peran yang sangat menarik dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu Aceh. Sejak awal abad ke-20, Aceh telah menjadi wilayah penting dalam pergerakan nasional. Semangat perlawanan dan semangat merdeka yang mengalir dalam darah Aceh telah menginspirasi banyak pejuang dari berbagai daerah.
Salah satu momen bersejarah yang mencatatkan nama Aceh adalah peristiwa perlawanan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien pada tahun 1899. Dalam pertempuran melawan Belanda, mereka berdua dengan gagah berani melawan invasi asing. Teuku Umar gugur di medan perang, tetapi pasukan Cut Nyak Dien terus melakukan perlawanan dengan keberanian yang luar biasa. Aceh membuktikan keberanian dan kesetiaannya terhadap Republik Indonesia dengan membela tanah air dari invasi asing.
Tak hanya prestasi sejarah, tapi juga semangat tak kenal lelah rakyat Aceh dalam mengumpulkan emas untuk membeli pesawat terbang kepresidenan pertama di Indonesia. Tidak sekadar tumpukan logam mulia, setiap butir emas yang dikumpulkan menjadi simbol ketekunan dan kesatuan. Mereka adalah pahlawan emas yang menginspirasi generasi selanjutnya.


