LM – Perayaan Hari Asyura di Aceh menjadi momen istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Namun, di Aceh, perayaan ini memiliki nilai lebih dengan adanya tradisi unik, yaitu memasak bubur asyura. Bubur asyura bukan sekadar makanan lezat yang dihidangkan dalam perayaan, melainkan juga simbol kepedulian dan kebersamaan yang mendalam bagi masyarakat di sana.
Tradisi memasak bubur asyura bermula dari cerita para ulama pada abad ke-16 yang datang ke Aceh untuk menyebarkan ajaran Islam dan mengajarkan pentingnya berbagi makanan dengan sesama, terutama pada hari-hari besar Islam. Kini, tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Aceh dan berlangsung selama berabad-abad.
Proses memasak bubur asyura sendiri dipenuhi dengan makna simbolis. Bubur ini terdiri dari 12 macam bahan, mencerminkan nilai-nilai syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan dan semangat untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama.
Pada hari Asyura, masyarakat Aceh berkumpul di masjid atau lapangan untuk bersama-sama memasak bubur asyura. Setelah dimasak, bubur asyura dibagikan kepada masyarakat yang kurang mampu, menggambarkan kepedulian dan empati terhadap sesama yang menjadi bagian penting dari tradisi ini.
“Tradisi Bubur Asyura di Aceh bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama. Bubur Asyura merupakan simbol yang menghubungkan masyarakat Aceh dalam semangat berbagi dan rasa syukur kepada Allah SWT,” ujar Mukhlis. Sabtu, 29 Juli 2023.


