Selain kegiatan air, Pulau Rubiah juga menyimpan sejarah yang menarik. Di pulau ini terdapat situs sejarah Karantina Haji, yang dulunya merupakan tempat karantina haji di Aceh sebelum dipindahkan ke Kota Banda Aceh. Untuk menuju ke situs sejarah ini, pengunjung harus berjalan sekitar 12 menit ke bukit. Namun, perlu diingat bahwa di Pulau Rubiah terdapat biawak berukuran besar, sehingga perlu berhati-hati. Ayi menawarkan bantuannya sebagai penunjuk jalan tanpa dikenakan biaya, dengan syarat pengunjung makan di warungnya.
Tidak hanya itu, di Pulau Rubiah juga terdapat dua makam, yaitu makam Ummi Sarah Rubiah dan suaminya. Keduanya merupakan ulama yang berasal dari Kabupaten Singkil dan tinggal di Pulau Rubiah.


