
Dalam perkembangannya, Sie Reuboh menjadi identitas kuliner Aceh Besar yang selalu hadir pada berbagai kesempatan, mulai dari jamuan keluarga, kenduri meugang, hingga meja-meja makan para perantau yang ingin mengobati rindu kampung halaman. Bagi sebagian perantau, satu suapan Sie Reuboh dapat membangkitkan kenangan tentang masa kecil—tentang suara ibu di dapur, aroma rempah yang memenuhi rumah, dan riuhnya keluarga besar berkumpul di hari-hari istimewa.
Teknik memasaknya yang khas juga menjadi daya tarik tersendiri. Proses memasak dimulai dengan memotong daging cukup tebal, lalu memasukkannya ke dalam panci bersama bumbu yang telah diulek. Cuka aren dituang secukupnya hingga seluruh daging terendam. Setelah itu, panci dimasak dengan api kecil selama berjam-jam sampai daging menyusut dan mengeluarkan minyak alaminya. Minyak inilah yang membuat Sie Reuboh tampak kemerahan, sekaligus memberi rasa gurih dan aroma yang kuat. Di beberapa wilayah Aceh Besar, ditambahkan pula potongan lemak agar cita rasa lebih kaya dan tahan lebih lama.
Meskipun memiliki teknik dan resep dasar yang serupa, setiap keluarga memiliki ciri khas masing-masing. Ada yang menambahkan cabai lebih banyak agar lebih pedas, ada pula yang memilih warna kuning dengan kunyit dominan. Keragaman versi inilah yang justru mengukuhkan bahwa Sie Reuboh adalah hidangan yang hidup—yang terus beradaptasi dengan selera, namun tetap berpijak pada akar tradisinya.
Dalam beberapa tahun terakhir, upaya pelestarian kuliner tradisional membuat Sie Reuboh semakin dikenal luas. Pelaku UMKM kuliner Aceh mulai memproduksi Sie Reuboh kemasan yang dapat dikirim ke luar daerah bahkan luar negeri. Di restoran-restoran Aceh, menu ini menjadi incaran wisatawan yang ingin merasakan keunikan rasa yang tidak mudah ditemukan di daerah lain. Pemerintah daerah pun sering mengangkat Sie Reuboh dalam berbagai festival kuliner untuk memperkuat identitas gastronomi Aceh.
Lebih dari sekadar masakan, Sie Reuboh adalah narasi kolektif masyarakat Aceh Besar tentang ketahanan, kreativitas, dan kasih sayang dalam dapur. Setiap suapan membawa pesan bahwa tradisi bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk diteruskan. Di tengah arus modernisasi yang serba cepat, Sie Reuboh berdiri sebagai pengingat bahwa nilai luhur sering kali tersimpan dalam hal-hal sederhana—seperti sepiring masakan yang lahir dari kearifan masa lalu, namun tetap relevan hingga hari ini.(Adv)












