LM – Penampilan Tari Guel dari sanggar Rembune Kabupaten Bener Meriah ikut meriahkan penutupan kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 di di Taman Sulthanah Safiatuddin Banda Aceh, Minggu sore, 12 November 2023. Seremonial penutupan yang dihadiri oleh Penjabat Bupati/Wali Kota, serta tamu undangan dari berbagai unsur, berlangsung meriah dengan pesona khas dari Tanah Gayo.
Tarian kebanggaan ini tidak hanya sekadar pertunjukan, melainkan sebuah karya seni yang menggabungkan elemen-elemen sastra, musik, dan tari. Penampilan Tari Guel membawa penontonnya ke dalam kisah legendaris Tanah Gayo tentang upaya membangunkan seekor gajah putih, sebuah cerita rakyat yang melekat kuat dalam budaya masyarakat setempat.
Pukauan dimulai sejak penari-penari melangkah dengan gerakan yang khas, kakinya menjinjit dan badan sedikit membungkuk, menciptakan harmoni yang seirama dengan tabuhan rapai yang mengiringi. Kostum dengan kain opoh ulen-ulen di punggung penari pria, yang dihias dengan sulaman kerawang Gayo, menjadi daya tarik visual yang mencolok. Kain ulen-ulen, dengan lebar 1×2 meter, dihempas dan dikibas-kibaskan seperti kepakan burung yang mengudara, menciptakan adegan yang memukau dan penuh keindahan.
Menariknya, Tari Guel bukan sekadar tarian biasa untuk menyambut tamu atau di acara adat tertentu. Tarian ini disebut sebagai kompilasi seni yang mencakup sastra, musik, dan seni tari itu sendiri. Dengan gerakan yang khas, tarian ini membawa penontonnya pada perjalanan budaya Tanah Gayo, menyampaikan pesan-pesan yang dalam melalui ekspresi artistik yang luar biasa.
Dalam sepanjang pertunjukan, penonton tak hanya terhipnotis oleh gerakan tarian, tetapi juga oleh makna yang tersemat dalam setiap gestur. Pada satu titik, penari mengempas dan mengibaskan kain ke udara, sementara kadang-kadang berlari kecil sambil menukik. Gerakan yang penuh semangat dan estetis ini mengundang penonton untuk merasakan keindahan dan kekayaan budaya Gayo yang terpancar melalui Tari Guel.
Ciri khas Tari Guel juga terlihat dari interaksi antar penari. Sebuah adegan menarik terjadi ketika seorang penari bergerak mendekat, mengitari, dan memberi sembah pada penari lain yang tengah duduk bersimpuh. Seolah hendak merayu agar penari lain ikut serta dalam gerakan, keduanya kemudian bergerak bersamaan, membentuk paduan tubuh dalam hentakan estetis berirama. Keseluruhan pertunjukan membawa suasana yang memukau dan mendalam, mengajak penonton untuk terlibat dalam keindahan kisah yang diangkat melalui Tari Guel.
Mengenai kostumnya, Tari Guel tak hanya sekadar serangkaian pakaian, melainkan simbol dari kekayaan alam dan lingkungan. Kain opoh ulen-ulen dengan sulaman kerawang Gayo yang menjadi properti utama tarian ini bukan hanya sebagai penunjang estetika, tetapi juga mencerminkan apresiasi terhadap wujud alam. Saat kain tersebut dihempas dan dikibaskan oleh penari, seakan-akan menggambarkan kehidupan alam yang hidup dan bergerak dalam harmoni.
Istilah ‘guel’ sendiri dalam bahasa Gayo bermakna ‘membunyikan’ dan memiliki kaitan erat dengan legenda Gajah Putih dalam cerita rakyat ‘Sengeda dan Bener Merie’. Guel menjadi manifestasi dari keindahan alam dan lingkungan, dirangkai melalui gerak simbolis dan hentakan irama. Tarian ini menjadi sarana ekspresi yang melibatkan penonton dalam narasi budaya yang kaya dan bermakna.
Dari segi makna, Tari Guel bukan hanya sekadar pertunjukan seni, melainkan juga media informatif yang memadukan seni sastra, musik, dan gerakan. Tarian ini dapat dikembangkan sesuai dengan semangat zaman dan perubahan pola pikir masyarakat setempat. Sebagai bentuk pengakuan akan keunikan dan keberlanjutan warisan budaya, Tari Guel telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh UNESCO pada tahun 2016 lalu.
Penampilan Tari Guel dalam penutupan Pekan Kebudayaan Aceh ke-8 ini bukan hanya sebuah pertunjukan, melainkan sebuah perjalanan budaya yang memukau, memperkaya, dan memberikan pengalaman mendalam kepada setiap penontonnya. Sebuah karya seni yang melampaui batasan waktu, Tari Guel terus hidup dan merayakan kekayaan budaya Tanah Gayo dengan megah dan indahnya.












