Scroll untuk baca artikel
Wisata

Tari Pho: Ekspresi Ceria yang Menyimpan Jejak Kesedihan di Aceh Barat

0
×

Tari Pho: Ekspresi Ceria yang Menyimpan Jejak Kesedihan di Aceh Barat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi.

 

Pada masa lalu, Tari Pho dibawakan oleh para perempuan Aceh, bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai medium spiritual dan emosional. Ia biasa dipentaskan ketika terjadi kematian tokoh besar, raja, atau orang terpandang di masyarakat. Para wanita akan duduk atau berdiri sambil melantunkan syair, meratap pelan, dan mengekspresikan kesedihan atas kehilangan tersebut. Gerakannya bukan semata estetika, tetapi jalan untuk mengeluarkan duka yang menyesakkan dada—sebuah bentuk terapi kolektif yang menguatkan ikatan sosial di antara sesama perempuan.

Table of Contents

 

Ratapan dalam tarian tersebut bukan sekadar tangis, namun juga wujud permohonan. Para perempuan memohon kepada Yang Mahakuasa agar musibah diangkat, agar jiwa yang pergi mendapat tempat yang layak, dan agar keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan. Tari Pho menjadi ruang suci, tempat manusia menyampaikan keluh kesah sekaligus menyerahkan nasib kepada Tuhan. Perpaduan antara gerak, suara, dan spiritualitas ini menjadikan Tari Pho memiliki dimensi yang jauh lebih dalam dibanding tarian rakyat pada umumnya.

Ilustrasi.

Namun seiring berkembangnya ajaran Islam di Tanah Rencong, bentuk-bentuk ekspresi kematian yang terlalu dekat dengan ratapan mulai dikurangi. Tradisi meratoh perlahan ditinggalkan, begitu pula fungsi Tari Pho sebagai tarian berkabung. Masyarakat Aceh kemudian memodifikasi bentuknya agar sesuai dengan nilai-nilai keagamaan yang lebih selaras dengan ajaran Islam. Pho tidak lagi ditampilkan pada upacara kematian, melainkan berubah menjadi kesenian rakyat yang lebih ringan dan inklusif.

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca