Selama kunjungan mereka di Cox Bazar, Wakapolda Aceh dan timnya tidak hanya melihat langsung kondisi di camp pengungsi, tetapi juga mengunjungi Museum Rohingya Cultural Memory Centre. Museum ini didirikan untuk memperingati perjuangan dan mengabadikan memori budaya Rohingya yang telah terpinggirkan selama bertahun-tahun.
Selain itu, delegasi Polri juga menyempatkan diri untuk bertemu dengan personel dari Armed Police Batalyon 8 Bangladesh, yang bertugas untuk mengamankan camp pengungsian tersebut. Pertemuan ini memberikan kesempatan bagi delegasi Polri untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang upaya keamanan dan perlindungan yang dilakukan di Cox Bazar.
Kunjungan ini juga menyoroti peran penting Bangladesh sebagai tuan rumah bagi jutaan pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari konflik dan persekusi di Myanmar. Bangladesh telah lama menjadi tempat perlindungan bagi Rohingya, meskipun tekanan atas sumber daya dan infrastruktur telah menjadi tantangan yang signifikan bagi negara tersebut.
Situasi di camp pengungsi Rohingya di Cox Bazar telah menjadi perhatian global selama bertahun-tahun. Kondisi di camp tersebut sering kali dipengaruhi oleh masalah kesehatan, keamanan, dan kemanusiaan yang kompleks. Polri, melalui kunjungan ini, berusaha untuk memahami secara lebih baik tantangan dan kesulitan yang dihadapi oleh para pengungsi Rohingya, serta upaya-upaya yang dilakukan untuk membantu mereka.
Menyadari pentingnya kerja sama internasional dalam menangani krisis pengungsi Rohingya, Polri juga berkomitmen untuk terlibat dalam upaya-upaya multilateral untuk memberikan bantuan dan perlindungan bagi mereka yang membutuhkan. Kunjungan ini merupakan langkah awal dalam upaya Polri untuk memperluas jangkauan kerja sama internasional dalam menangani isu-isu kemanusiaan yang mendesak.












