“Bagaimana Banda Aceh bisa bangkit, jawabannya Kolaborasi, seluruh dunia turut membantu proses tanggap darurat, rehabilitasi, hingga rekonstruksi, Dari pengalaman itulah kami belajar bahwa ketangguhan tidak dibangun oleh satu pihak.
Ketangguhan lahir ketika pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan mitra internasional, dan hingga hari ini, semangat itulah yang terus kami bawa dalam pembangunan Banda Aceh,” kata Illiza.
Illiza juga berbagi cerita kala Aceh kembali menghadapi ujian besar di akhir tahun 2025 yaitu bencana banjir yang melanda berbagai wilayah.Sebanyak 18 kabupaten dan kota terdampak.
Meskipun Banda Aceh tidak menjadi wilayah yang paling terdampak, namun merasakan efeknya. Aktivitas masyarakat terganggu, distribusi logistik terhambat, dan jaringan infrastruktur regional ikut terdampak.
“Setelah saya dan pra jajaran memastikan kondisi Banda Aceh tetap terkendali, kami menggerakkan #BandaAcehPeduli. Melalui gerakan ini, Banda Aceh mengirimkan bantuan logistik, dukungan medis, ambulans, trauma healing, dukungan pendidikan, hingga bantuan pemulihan infrastruktur dasar ke berbagai kabupaten dan kota yang terdampak.
Pada saat yang sama, kami juga merasakan semangat solidaritas dari keluarga besar APEKSI. Sejumlah pemerintah kota anggota APEKSI turut memberikan bantuan bagi masyarakat Aceh,” kata Illiza yang disambut aplusan para peserta.
Illiza juga mengatakan bahwa ketangguhan bukan hanya tentang membangun kembali bangunan yang hancur. Ketangguhan adalah membangun manusia yang peduli. Membangun masyarakat yang saling menjaga dan membangun generasi muda yang siap menghadapi masa depan.












