Dalam setiap pertunjukan Tari Seudati, ada satu sosok yang selalu menarik sorotan sejak detik pertama—syeh. Ia berdiri tegap di barisan depan, menjadi pusat gravitasi bagi seluruh penari. Dari mulutnya keluar aba-aba yang mengatur jalannya pertunjukan, dari suaranya mengalir syair yang penuh makna, dan dari geraknya terpancar wibawa yang memandu ritme kelompok. Syeh bukan hanya pemimpin tarian secara teknis, tetapi juga simbol kepemimpinan dalam tradisi Aceh.
Peran ini terbentuk melalui sejarah panjang Seudati sebagai media dakwah, komunikasi sosial, dan penyampai pesan moral. Ketika Seudati berkembang pada masa lalu, tarian ini tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi wadah penyampaian nasihat dan nilai kehidupan. Pada titik inilah syeh muncul sebagai orator dan penjaga pesan. Untuk menjadi syeh, seseorang tidak cukup hanya menguasai gerak-gerak dasar Seudati. Ia harus mampu bersyair dengan fasih, memahami nilai agama dan adat, memiliki karakter kuat, serta dianugerahi suara yang lantang dan bergetar dalam irama khas Aceh.
Fungsi syeh dalam pertunjukan sangatlah kompleks. Ketika tarian dimulai, syeh berperan sebagai komposer, mengatur tempo, nada, dan pola ritme. Setiap hentakan kaki, setiap tepukan dada, dan setiap perubahan formasi berasal dari aba-abanya. Di tengah tarian, perannya berubah menjadi penyair. Syair yang dilantunkannya bukan hanya pengisi ruang kosong, tetapi inti dari pertunjukan itu sendiri. Pesan sosial, kisah perjuangan, ajaran agama, atau peringatan moral semuanya disampaikan lewat suaranya. Pada bagian akhir, syeh tampil sebagai simbol kehormatan—tokoh yang menjadi representasi kecakapan seluruh kelompok. Ketika tepuk tangan penonton bergema, penghargaan itu bukan hanya untuk para penari, tetapi juga untuk syeh sebagai lokomotif yang menuntun arah emosional pertunjukan.












