LM – Pada 3 September lalu, pemerintah resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi untuk jenis Solar dan Pertalite. Masing-masing harganya Rp 6.800 per liter dan Rp 10.000 per liter.
Pasca kenaikan harga Pertalite tersebut, bensin yang dijual SPBU Vivo diserbu masyarakat karena menjual harga yang jauh lebih murah. Untuk jenis Revvo dengan RON 89 dijual Rp 8.900 per liter. BBM jenis ini hampir mirip dengan jenis Pertalite yang RON-nya 90.
Dalam analisis Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, disebutkan dua hal yang menyebabkan bensin Revvo 89 dijual lebih murah dari Pertamina. Pertama, harga jual yang ditetapkan Vivo ini sesuai dengan nilai keekonomiannya.
Bila ini benar, maka harga Pertalite sebelum dan sesudah mendapatkan kompensasi dari pemerintah sangat mahal. Mengingat harga yang dijual untuk Revvo 89 sebesar Rp 8.900 per liter, sedangkan Pertalite sekitar Rp 17.000 berdasarkan nilai keekonomiannya dan Rp 10.000 setelah mendapatkan kompensasi dari pemerintah.
“Kalau ini benar, maka harga Pertalite meski sudah disubsidi ini kemahalan,” kata Fahmy saat dihubungi merdeka.com pada Sabtu, (10/9).
Kedua, Pemerintah telah mengeluarkan satu pedoman khusus bagi para badan usaha dalam menentukan harga jual bensin berdasarkan tingkat RON. Namun pedoman tersebut dikembalikan kepada masing-masing badan usaha atau memiliki formulasi sendiri dalam menentukan harga jual.
“Ada satu pedoman yang dibuat Kementerian ESDM, tapi itu dipakai atau tidak (saya tidak tahun) atau mereka punya formulasinya sendiri,” ujar Fahmy.












