Di bidang ekonomi dan kesejahteraan sosial, Pemerintah Kota Banda Aceh berhasil menekan angka kemiskinan menjadi 5,45 persen, dengan sekitar 4.000 jiwa keluar dari garis kemiskinan.
Meski demikian, pemerintah tetap memberi perhatian khusus kepada warga yang masih tergolong miskin ekstrem dengan pendapatan di bawah Rp800 ribu per bulan melalui penguatan UMKM, akses permodalan, serta program pemberdayaan berbasis gampong.
Berbagai kolaborasi lintas sektor, termasuk subsidi daging meugang, turut dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus melindungi tradisi lokal.
Di sektor pembangunan manusia, pemerintah menaruh perhatian besar pada penguatan karakter generasi muda melalui pendidikan diniyah, pembinaan remaja masjid, serta pelatihan keterampilan melalui Banda Aceh Academy.
Upaya ini bertujuan membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi.
Sementara itu, pada aspek pelayanan publik dan kesehatan, berbagai reformasi terus dilakukan. Angka stunting di Banda Aceh menunjukkan tren penurunan menjadi 21,7 persen melalui penguatan layanan kesehatan dasar, program jemput bola seperti Dokter Saweu, serta peningkatan fasilitas puskesmas.
Cakupan layanan air bersih juga telah menjangkau lebih dari 92 persen penduduk, bahkan selama Ramadan air bersih untuk masjid dan meunasah digratiskan guna mendukung kelancaran ibadah masyarakat. Reformasi birokrasi berbasis teknologi informasi turut dioptimalkan agar pelayanan semakin cepat, transparan, dan akuntabel.






