Scroll untuk baca artikel
AdvertorialKesehatan

Aneka KIPI dari berbagai Vaksin Anak dan Cara Mengatasinya

81
×

Aneka KIPI dari berbagai Vaksin Anak dan Cara Mengatasinya

Sebarkan artikel ini

LM-Pelaksanaan Vaksinasi COVID-19 pada anak usia 6-11 tahun sudah dimulai dan bukan tidak mungkin anak alami indikasi gejala Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI) setelah divaksinasi.

Beberapa gejala umum KIPI adalah nyeri pada lengan bekas suntikan, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, menggigil, mual atau muntah, merasa lelah, demam yang ditandai suhu diatas 37,8 derajat celsius, alami gejala mirip flu, dan menggigil selama 1-2 hari.

Table of Contents

Jangan panik jika anak alami hal di atas. Segera lakukan penanganan dini, seperti memastikan anak cukup beristirahat, minum obat penurun panas jika diperlukan, memastikan anak mengkonsumsi air putih yang cukup, dan atasi rasa nyeri di tempat bekas suntikan dengan tetap menggerakannya dan kompres dengan air dingin di bagian yang nyeri.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sasaran sekitar 26,4 juta anak, sebanyak 13,7 juta anak atau 51,9 persen telah mendapatkan vaksinasi dosis pertama, dan sebanyak 1,6 juta anak atau 6,3 persen sudah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang sangat rentan terinfeksi virus, sehingga membutuhkan perlindungan tambahan untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya.

Tak jarang vaksinasi Covid-19 akan menimbulkan efek samping tertentu, atau biasanya dikenal dengan istilah kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

Vaksinasi memiliki manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan komplikasi yang disebabkan oleh virus Covid-19.
Semakin cepat menerima vaksin, maka semakin cepat juga mendapatkan perlindungan dari virus covid-19.

KIPI vaksin anak Ketua Komisi Nasional (Komnas) KIPI Prof Hindra Irawan Satari mengatakan, KIPI dari pemberian vaksinasi Covid-19 pada anak usia 6-11 cenderung lebih rendah dibandingkan pada orang dewasa.

“Dari segi umur, KIPI (efek samping vaksin anak) pada usia muda lebih rendah dari yang usia produktif dan lansia. Jadi tidak benar jika KIPI pada anak lebih tinggi,” kata Hindra

Dengan tingkat KIPI yang jauh lebih rendah, membuktikan pemberian vaksinasi Covid-19 pada anak usia 6-11 tahun aman.

Baca Juga :  Anggota DPRK Banda Aceh Minta Penanganan Serius terhadap ODGJ yang Berkeliaran

Hasil uji klinis pun menunjukkan tidak ada efek yang serius dari penyuntikan vaksin corona.

“Kalaupun ada KIPI sifatnya cenderung ringan dan mudah diatasi,” ujar Hindra.

Gejala KIPI pada anak Dari uji klinis fase 1 dan 2 vaksin Sinovac yang telah dilakukan pada anak dan remaja usia 3-17 tahun, lanjut Hindra, menunjukkan bahwa reaksi yang dialami oleh anak-anak yang divaksinasi cenderung ringan. Gejala KIPI vaksin anak yang dilaporkan, mayoritas anak-anak setelah divaksin mengalami nyeri lokal, diikuti demam dan batuk.

“Juga tidak ada laporan yang KIPI serius pada kelompok yang diberi vaksin,” tutur dia.

Sementara itu, efek samping vaksin Pfizer yang paling dominan muncul antara lain kemerahan, kemudian kelelahan, sakit kepala dan menggigil. Hindra menegaskan, berbagai reaksi yang muncul pasca pemberian vaksinasi Covid-19 atau KIPI merupakan bentuk respons tubuh terhadap vaksin yang disuntikkan.

“Untuk itu, jika muncul KIPI itu adalah sesuatu yang wajar,” ucapnya.

Namun, derajat efek samping dari vaksinasi, sebab KIPI memiliki reaksi yang berbeda-beda pada setiap orang, ada yang bereaksi ringan hingga berat. Penanganan KIPI pada anak Reaksi ringan Reaksi ringan setelah divaksinasi antara lain demam dan nyeri di lokasi suntikan.

Apabila muncul reaksi ringan setelah anak mendapatkan vaksinasi, maka diimbau segera beristirahat dengan cukup. Efek samping vaksin anak yang ringan, umumnya mereka mengalami demam, dan dianjurkan untuk segera minum obat sesuai dosis dan cukup minum air putih.

Kalau ada nyeri di tempat suntikan, tetap gerakkan tangan dan kompres dengan air dingin.

Reaksi berkepanjangan Sementara itu, jika terjadi demam setelah 48 jam penyuntikan vaksinasi, anak harus segera isolasi mandiri dan melakukan tes Covid-19.

Jika keluhan tidak berkurang, maka bisa menghubungi nomor kontak petugas kesehatan yang tertera di kartu vaksinasi atau fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) terdekat.

“Mengantisipasi terjadinya KIPI, Komnas KIPI juga telah menetapkan contact center yang bisa dihubungi jika ada keluhan dari penerima vaksinasi,” tutur Hindra.

Baca Juga :  Peusijuek sebagai Perekat Sosial: Tradisi yang Menyatukan Masyarakat Aceh

Perlu diketahui, fasyankes dapat melaporkan ke Puskesmas, lalu dari Puskesmas maupun RS akan melaporkan ke dinas kesehatan kabupaten/kota atau bisa melalui laman keamananvaksin.kemkes.go.id. Apabila memang terjadi efek samping serius atau KIPI, maka pasien akan menerima perawatan medis dan seluruh biaya akan ditanggung oleh pemerintah.

 

Aneka KIPI dari 14 Vaksin Anak dan Cara Mengatasinya

Anak-anak kebanyakan mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) setelah menerima vaksinasi.

Orangtua mungkin merasa khawatir, ketika anak mengalami efek samping dari vaksinasi yang disuntikkan.

Berikut ini, adalah daftar dari KIPI vaksin anak dan cara orangtua mengatasinya di rumah.

1. Vaksin hepatitis B. Dilansir dari laman Ciputra Hospital, efek samping penyuntikan vaksin ini jarang terjadi. Tidak ada juga bukti yang menunjukkan kematian mendadak pada bayi atau Sudden Infant Death (SID).

Jika timbul efek samping, biasanya ringan dan berupa bekas luka di area suntik atau demam. Untuk mengatasi KIPI vaksin anak berupa demam, orangtua bisa mengompresnya dengan air hangat.

2. Vaksin Polio. KIPI vaksin polio berupa demam ringan setelah imunisasi, nyeri di bagian suntikkan, dan kulit yang mengeras.

Efek samping dari pemberian vaksinasi polio dapat hilang dengan sendirinya dalam waktu 2-3 hari.

3. Vaksin BCG. Setelah diimunisasi BCG, anak biasanya akan rewel dan mengalami luka lepuh pada area suntikan.

Ibu dapat mengatasi KIPI vaksin anak BCG seperti rewel, dengan memberikannya ASI sesering mungkin. Sehingga bayi lebih tenang dan suhu tubuhnya turun.
4. Vaksin DPT. Efek samping yang kerap terjadi setelah anak menerima vaksin DPT adalah demam. Selain dengan mengompres dan memberikan ASI, cara mengatasi KIPI vaksin anak ini adalah dengan memasangkan baju yang nyaman atau diberikan obat penurun panas.

5. Vaksin PCV. Dilansir dari laman Primaya Hospital, KIPI vaksin anak PCV di antaranya bengkak, merah, dan nyeri di lokasi suntikan.

Baca Juga :  Penguatan Kapasitas Nakes Untuk Tingkatkan Cakupan Imunisasi di Kota Banda Aceh

Anak juga mungkin mengalami demam. Suhu tubuh yang tinggi bukan hal yang berbahaya dan dapat turun secara perlahan. Bisa dibantu dengan kompres air hangat.
6. Vaksin Rotavirus. KIPI yang kerap terjadi setelah pemberian imunisasi ini adalah rewel, gelisah, muntah, dan diare.

Efek samping bersifat ringan dan orangtua tidak perlu panik, karena dapat sembuh sendiri. Agar anak tidak dehidrasi, ibu bisa memberikannya ASI.

7. Vaksin Influenza. Anak yang menerima vaksin influenza, akan merasakan kelelahan, sakit kepala, demam, dan bagian yang disuntik terasa nyeri.

Orangtua diharapkan tetap tenang, karena hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dan dapat sembuh dengan sendirinya.

8. Vaksin MR/MMR. KIPI vaksin MR/MMR yang umum terjadi adalah demam selama 1-2 hari. Kondisi ini bisa diatasi dengan memberikan obat penurun panas yang dijual di pasaran.

9. Vaksin Hepatitis A. Efek samping setelah pemberian vaksin hepatitis A umumnya ringa, berupa lelah, sakit kepala, mual, diare, hingga menurunnya nafsu makan.

10. Vaksin Tifoid. KIPI vaksin tifoid umumnya berupa nyeri dan bengkak di area suntik, demam, sakit perut, dan diare.

11. Vaksin HPV. Vaksin HPV menyebabkan efek samping berupa nyeri, demam, pusing, mual, dan badan terasa lelah.
Anak sebaiknya beristirahat dan diberikan obat penurun demam, agar suhu tubuhnya kembali normal.

12. Vaksin Dengue. KIPI vaksin anak ini berupa demam, pusing, ruam di area suntik, mual muntah, migrain, hingga nyeri di leher.

Segera periksa ke dokter apabila efek samping tidak hilang lebih dari 3 hari.

Meski ada KIPI atau efek samping dari setiap vaksin anak, namun melengkapi imunisasi anak tetap penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius. (Adv)

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca