“Dan yang paling penting, harus ada kemauan politik yang kuat (strong political will) untuk menerjemahkan kebijakan menjadi aksi dan mengalokasikannya dalam anggaran,’ kata mantan rektor Universitas Paramadina tersebut.
Anies menganggp, G20 memiliki peran yang menentukan dalam upaya kita menghadapi krisis iklim. Sehingga diperlukan integrasi vertikal antara pemerintah nasional dan pemerintah lokal dalam upaya menekan emisi gas buang. “Setiap kebijakan di tingkat lokal harus selaras dengan kebijakan dan target di level nasional,” kata eks mendikbud itu.
Di lokasi yang sama dengan waktu berbeda, Gubernur Jawa Barat (Jabar), M Ridwan Kamil juga diminta mengisi acara terkait pembangunan dan kelestarian lingkungan. Dia pun membagikan pengalamannya memimpin di Provinsi Jabar.
“Di #G20 Bloomberg CEO Forum memaparkan Jawa Barat dan pentingnya kesepahaman global dalam membangun dunia dengan cara yang sama; membangun dengan keseimbangan lingkungan, merespons isu sosial manusia sambil berinovasi memajukan ekonomi yang berkeadilan untuk semua,” katanya melalui akun Twitter, @ridwankamil.
Kang Emil, sapaan akrabnya, mengatakan, para kepala negara anggota G20 datang ke Bali untuk mencari kesepakatan bersama. Hal itu karena 20 negara, termasuk satu organisasi Uni Eropa menguasasi lebih dari 70 persen ekonomi dunia. Sehingga, tentulah mereka harus rajin mengngobrol dari hati ke hati.
“Jawa Barat sudah sukses menjadi co-chair di forum U20 (urban) dan Y20 (youth) dan aktif berpartisipasi di T20 (think) dan B20 (business). Kita doakan agar G20 summit ini sukses dan lancar, dan masa depan dunia makin baik bukan sebaliknya,” kata Kang Emil.(Republika.com).












