Di sebuah balai desa di Kabupaten Aceh Tengah, malam belum terlalu larut. Sejumlah pemuda dan para tetua duduk melingkar, tangan mereka memegang gembol. Sang cik mengangguk pelan, memberi aba-aba, lalu suara hentakan telapak tangan mulai terdengar—bersih, ritmis, dan seakan menjadi jantung malam itu. Beginilah perjalanan panjang Didong dimulai bagi setiap generasi baru: dari ruang-ruang kecil yang penuh kekeluargaan.
Didong sudah berabad-abad tumbuh menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Gayo. Di masa lalu, Didong hadir sebagai sarana dakwah Islam dan pendidikan adat. Para ulama dan tetua kampung memadukan nilai agama dengan budaya lokal, menciptakan syair-syair yang meresap ke jiwa. Didong bukan sekadar seni; ia adalah sistem pengetahuan yang hidup.
Masuk ke abad modern, Didong mengalami perubahan bentuk dan fungsi. Jika dahulu ia sangat terkait dengan ritual dan acara sosial, kini Didong berkembang menjadi seni pertunjukan profesional yang sering tampil di festival budaya, seminar, hingga panggung nasional. Kelompok-kelompok Didong berlomba menampilkan kreativitas baru, termasuk memodifikasi pola ritme, memperkaya syair, hingga membuat format kolaborasi dengan musik tradisional lain.
Namun, perubahan ini tidak terjadi tiba-tiba. Ia lahir dari kegelisahan para seniman Didong pada era 1980-an hingga 2000-an, ketika pengaruh musik luar mulai mendominasi kehidupan generasi muda. Beberapa seniman, seperti cik terkenal di Gayo Lues dan Aceh Tengah, mulai memperkenalkan metode latihan yang lebih terstruktur. Mereka juga mendorong regenerasi dengan memasukkan Didong ke sanggar-sanggar seni.












