Scroll untuk baca artikel
DPRK

Hadapi Era Digital, Ketua DPRK Banda Aceh Ajak Warga Tidak Mudah Terkecoh Modus Penipuan Online

×

Hadapi Era Digital, Ketua DPRK Banda Aceh Ajak Warga Tidak Mudah Terkecoh Modus Penipuan Online

Sebarkan artikel ini

Linimedia.id – Perkembangan teknologi digital telah membawa banyak kemudahan dalam kehidupan masyarakat. Berbagai aktivitas, mulai dari komunikasi, transaksi keuangan hingga pelayanan publik, kini dapat dilakukan hanya melalui telepon genggam. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru berupa semakin maraknya kejahatan siber dengan berbagai modus yang terus berkembang.

Menyikapi kondisi tersebut, Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah ST, mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penipuan online yang kini semakin canggih. Menurutnya, pelaku kejahatan digital tidak lagi hanya memanfaatkan pesan singkat atau akun media sosial palsu, tetapi juga mulai menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk meyakinkan calon korbannya.

Imbauan itu disampaikan Irwansyah setelah namanya kembali dicatut oleh pihak yang tidak bertanggung jawab melalui nomor WhatsApp dan akun media sosial palsu. Pelaku menggunakan foto dirinya sebagai gambar profil bahkan membuat akun media sosial dengan tampilan yang menyerupai akun asli agar terlihat meyakinkan.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya apabila menerima pesan ataupun telepon yang mengatasnamakan saya. Nomor yang digunakan bukan nomor saya. Mereka memakai foto saya bahkan membuat akun yang seolah-olah asli,” kata Irwansyah.

Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, nomor palsu tersebut tidak hanya mengirim pesan, tetapi juga melakukan panggilan telepon kepada sejumlah masyarakat. Yang cukup mengkhawatirkan, suara penelepon terdengar sangat mirip dengan dirinya.

Menurut Irwansyah, bukan tidak mungkin suara tersebut merupakan hasil manipulasi teknologi AI yang kini semakin mudah diakses. Modus seperti ini dinilai berpotensi membuat masyarakat lengah karena suara yang didengar terdengar sangat menyerupai orang yang dikenal.

“Kadang saat menelepon, suaranya sangat mirip dengan saya. Bisa jadi itu hasil olahan AI. Biasanya mereka berbicara singkat-singkat, hanya beberapa kata, kemudian sambungan terputus. Jangan mudah percaya, apalagi kalau mengajak video call atau meminta sesuatu,” ujarnya.

Baca Juga :  Terkait Hutang Pemko Banda Aceh, Ketua Komisi III DPRK Tunggu Hasil Audit Inspektorat

Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh langsung menanggapi setiap pesan atau panggilan yang mengatasnamakan pejabat pemerintah, tokoh masyarakat maupun orang yang dikenal tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Langkah sederhana seperti menghubungi nomor resmi atau memastikan langsung kepada pihak terkait dinilai sangat penting untuk mencegah terjadinya penipuan.

“Kalau ada yang menghubungi mengatasnamakan saya, jangan langsung dipercaya. Pastikan dulu dengan menghubungi nomor yang memang selama ini saya gunakan. Jangan sampai masyarakat menjadi korban hanya karena terburu-buru percaya,” katanya.

Irwansyah juga mengingatkan bahwa kejahatan digital atau tele-scamming kini terus mengalami perkembangan. Pelaku memanfaatkan berbagai platform komunikasi, mulai dari WhatsApp, telepon seluler hingga media sosial, untuk mencari korban. Mereka bahkan mampu menyusun skenario yang seolah-olah benar sehingga membuat masyarakat kehilangan kewaspadaan.

Karena itu, menurutnya, literasi digital menjadi salah satu kunci penting dalam menghadapi perkembangan teknologi saat ini. Selain mampu memanfaatkan teknologi untuk kegiatan positif, masyarakat juga perlu memahami berbagai risiko yang menyertainya agar tidak mudah menjadi sasaran kejahatan siber.

“Perkembangan teknologi memang membawa banyak manfaat. Tetapi kita juga harus cerdas menggunakannya. Jangan sampai teknologi justru dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk merugikan masyarakat,” ujarnya.

Selain mengatasnamakan pejabat, Irwansyah menjelaskan bahwa pelaku penipuan biasanya menggunakan berbagai modus lain yang juga perlu diwaspadai. Salah satunya mengaku sebagai petugas bank dan meminta data rahasia seperti PIN, OTP, kata sandi maupun kode verifikasi dengan alasan rekening bermasalah atau perlu dilakukan pembaruan data.

Padahal, menurutnya, lembaga perbankan tidak pernah meminta informasi rahasia tersebut melalui telepon maupun pesan singkat. Karena itu masyarakat diminta untuk tidak pernah memberikan data pribadi kepada siapa pun.

Baca Juga :  Musriadi Aswad: Zakat Berperan Penting dalam Pengentasan Kemiskinan

Modus lain yang juga sering terjadi adalah mengaku sebagai aparat penegak hukum atau pejabat tertentu untuk menakut-nakuti korban, kemudian meminta sejumlah uang dengan berbagai alasan. Ada pula penawaran hadiah undian palsu yang mengharuskan korban mentransfer biaya administrasi terlebih dahulu sebelum hadiah dapat dicairkan.

Tidak hanya itu, masyarakat juga diminta mewaspadai penipuan yang mengatasnamakan anggota keluarga yang sedang mengalami musibah, tawaran investasi dengan keuntungan tidak masuk akal, hingga lowongan pekerjaan yang meminta setoran awal.

Kasus pembajakan akun WhatsApp juga masih kerap terjadi. Pelaku biasanya meminta kode OTP kepada korban, kemudian mengambil alih akun tersebut dan menghubungi seluruh kontak untuk meminjam uang ataupun melakukan aksi penipuan lainnya.

Untuk menghindari hal tersebut, Irwansyah mengimbau masyarakat agar selalu berhati-hati dalam menerima informasi dari nomor yang tidak dikenal. Jika menerima panggilan atau pesan yang mencurigakan, langkah terbaik adalah menghentikan komunikasi dan melakukan verifikasi melalui saluran resmi.

“Jangan pernah memberikan PIN, OTP, password maupun kode verifikasi kepada siapa pun. Kalau ragu, tutup teleponnya dan hubungi langsung pihak yang bersangkutan melalui nomor resmi. Jangan mudah panik ataupun terburu-buru mentransfer uang,” tegasnya.

Menurut Irwansyah, upaya mencegah penipuan digital tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum, tetapi juga membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat. Semakin tinggi kesadaran masyarakat terhadap berbagai modus kejahatan siber, maka semakin kecil pula peluang pelaku untuk menjalankan aksinya.

Ia berharap budaya saling mengingatkan di lingkungan keluarga maupun masyarakat terus diperkuat, terutama kepada orang tua dan kelompok masyarakat yang belum begitu akrab dengan perkembangan teknologi digital.

“Era digital memberikan banyak kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru. Karena itu mari kita sama-sama meningkatkan kewaspadaan, menjaga data pribadi, dan tidak mudah percaya terhadap setiap informasi yang belum jelas kebenarannya. Dengan begitu, kita bisa memanfaatkan teknologi secara aman dan terhindar dari berbagai bentuk penipuan online,” pungkasnya.[***]

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca