Terkait dengan tema ceramah kali ini, “Seuramoe Hate”, Illiza menyebutnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Aceh. “Karena dalam budaya kita, serambi bukan sekadar bagian dari rumah. Di situlah keluarga berkumpul, cerita dibagikan, nasihat disampaikan. Dan sering kali, di situlah hati kembali dikuatkan.”
Ia juga terbersit satu hal mengetahui bahwa Syeikh Reza berdakwah di lingkungan muslim minoritas. “Kalau di tempat yang umat Islamnya minoritas saja nilai-nilai Islam tetap dijaga, majelis ilmu tetap hidup, dan dakwah terus berjalan, maka kita yang hidup di Banda Aceh tentu tidak boleh menganggap semuanya akan berjalan dengan sendirinya.”
“Kita hidup di kota yang memiliki begitu banyak nikmat. Masjid ada di setiap gampong. Meunasah hidup di tengah masyarakat. Majelis ilmu tumbuh. Ruang-ruang dakwah terbuka luas. Tetapi nilai-nilai yang baik tetap harus dirawat. Tetap harus dipelajari,” katanya.
Masih kata Illiza, di tengah berbagai kemajuan hari ini, juga ada satu hal yang tidak boleh diabaikan. “Manusia tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik. Manusia juga membutuhkan arah. Membutuhkan nilai. Membutuhkan ruang untuk saling mengingatkan dalam kebaikan,” demikian Illiza Sa’aduddin Djamal. (*)






