“Kami tidak ingin rumah kami kembali, kami hanya ingin ini, rumah Allah, kembali seperti semula, sehingga warga desa bisa shalat lagi di sana,” kata Zaarour.
Hal senada juga disampaikan warga desa lainnya, Mahmoud Aref Nadaf (74 tahun). Ia telah tinggal di sebelah masjid itu sekitar 50 tahun. Ia pun mengaku sangat merindukan keberadaan masjid itu, bahkan lebih dari rumahnya yang telah hancur.
“Saya berada di kamar terdekat masjid ketika gempa terjadi, antara tidur dan bangun. Tembok barat masjid menimpa kami, tingginya sekitar 15 meter. Batu-batu besar jatuh ke kamar tempat saya tidur,” jelas Nadaf.
Adalah sebuah keajaiban baginya bisa selamat dari bencana gempa bumi itu. Ia meyakini yang menyelamatkannya adalah Allah SWT.
“Saya tidak pernah menyakiti seseorang atau menyimpan niat buruk di hati saya terhadap siapa pun, itu sebabnya Allah menyelamatkan saya,” kata Nadaf sambil duduk di atas tumpukan puing di dekat masjid.
“Saat tidak punya kesibukan, saya selalu di masjid. Itu sangat berarti bagi orang-orang desa. Itu adalah tempat berlindung, tempat berdoa, belajar, berkumpul, dan pengajian. Sekarang sudah hilang, tidak ada yang bisa menggantikannya,” imbuhnya.
Ketua Dewan Maland Ahmed Abazli mengatakan akibat gempa itu 34 orang warganya meninggal dunia. Bencana itu juga merusak 90 persen bangunan rumah di desa, dengan 198 keluarga kehilangan seluruh rumah mereka dan sekitar 320 rumah rusak parah dan tidak dapat dihuni.
“Ramadhan akan segera tiba dan kami tidak memiliki masjid, jadi kami telah meluncurkan kampanye untuk mengumpulkan sumbangan dari penduduk desa dan kami berharap juga dapat segera menerima bantuan untuk membangun kembali,” katanya kepada Aljazirah.










