LM — Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Aceh, dr. Munawar, SpOG, mengungkapkan masih tingginya angka penolakan imunisasi di Aceh, bahkan ironisnya, penolakan itu kerap datang dari tenaga kesehatan sendiri. Hal ini ia sampaikan saat bersilaturahmi dengan jajaran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh di Banda Aceh, Selasa (15/7/2025).
Dalam kunjungan yang didampingi Sekretaris Dinas Kesehatan Ferdiyus, SKM, M.Kes, Munawar disambut hangat oleh Ketua PWI Aceh Nasir Nurdin, bersama Dewan Penasihat Bustamam Ali dan Muchlis Musa serta pengurus lainnya. Silaturahmi itu diisi diskusi berbagai isu kesehatan terkini, termasuk upaya menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut Munawar, program imunisasi nasional yang kini sudah mencakup 14 jenis vaksin dari sebelumnya 11, masih sering mendapat perlawanan dari masyarakat. Isu haram yang disematkan pada vaksin menjadi salah satu faktor utama penolakan.
“Masih ada yang menolak imunisasi dengan alasan vaksin mengandung unsur babi. Ironisnya, larangan ini kadang datang dari tokoh masyarakat bahkan dari tenaga kesehatan sendiri,” ujarnya, membenarkan keluhan yang disampaikan Pemred Komparatif.id Muhajir Juli.
Munawar menegaskan bahwa capaian imunisasi di Aceh yang rendah bisa berdampak buruk terhadap upaya menekan angka stunting di daerah. Meski data menunjukkan penurunan stunting dari 29,4 persen menjadi 28,6 persen, ia mengingatkan imunisasi yang tidak lengkap dapat memperburuk kondisi tersebut.
“Kegagalan imunisasi juga berarti gagal membebaskan anak-anak Aceh dari stunting. Kita perlu melawan isu hoaks terkait vaksin ini, dan media sangat berperan,” jelasnya.
Kadiskes: Penolakan Imunisasi hingga Lempar Mobil Puskesmas
Kadiskes juga mengungkapkan penolakan imunisasi di lapangan kadang berlangsung keras. “Ada masyarakat yang sampai melempar mobil Puskesmas sebagai bentuk protes,” katanya.












