Direktur Keamanan Siber dan Sandi Pemerintah Pusat BSSN Yos Alfantino mengapresiasi kehadiran perwakilan CSIRT instansi pusat dalam kegiatan ini. Dia meminta pengelola CSIRT memberikan data atau informasi yang sesungguhnya.
“Karena data dan informasi tersebut akan kami olah untuk menjadi dasar dalam pengajuan program kerja pembinaan CSIRT,” ujarnya dalam sambutannya.
Sejak diresmikan oleh BSSN pada 2020, Edu-CSIRT telah memberikan layanan proaktif dan reaktif terhadap aduan siber pada layanan elektronik yang dimiliki Kemendikbudristek baik yang dilaporkan oleh pemilik layanan maupun masyarakat umum. Sebagai penyedia layanan tentunya dibutuhkan monitoring dan evaluasi untuk menjaga kesiapsiagaan setiap personil Edu-CSIRT dalam menangani insiden siber yang terjadi.
Setiap tahunnya BSSN yang juga penanggungjawab arsitektur keamanan SPBE melalui Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Pemerintah Pusat melakukan evaluasi penyelenggaraan CSIRT sektor pemerintah pusat. Edu-CSIRT Kemendikbudristek juga menjadi sasaran evaluasi dari BSSN dengan mengisi instrumen pengukuran maturitas penanganan insiden siber dan sandi. Adapun kematangan yang diukur terbagi menjadi tiga fase pengukuran mulai dari fase persiapan, fase aksi, dan fase tindak lanjut. Pada setiap fase tim Edu-CSIRT diminta mengisi setiap pertanyaan dengan skala satu hingga empat yang nantinya akan dikonversi dengan tingkat maturitas pengelolaan CSIRT.
BSSN juga menilai Edu-CSIRT telah melakukan simulasi penanganan insiden dilakukan secara berkala, mencakup semua jenis platform teknologi yang ada, termasuk melibatkan mitra dan pihak eksternal (regulator, tim CSIRT lain). Dari pengelolaan SDM, Edu-CSIRT memiliki kompetensi formal di bidang manajemen insiden dan terlibat dalam upaya meningkatkan kesiapan manajemen insiden di internal organisasi.










