Ketika peran itu hilang, hilang pula kearifan sosial yang selama berabad-abad menjaga ketertiban petani Aceh. Konflik irigasi mulai muncul, sawah terbengkalai karena salah kelola air, dan pembakaran jerami tanpa aturan menyebabkan kerusakan lingkungan. Perlahan, masyarakat merasakan bahwa teknologi modern, betapapun majunya, tidak dapat menggantikan kearifan adat yang dibangun dari pengalaman panjang generasi petani Aceh.
Khanduri Blang mengajarkan bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan oleh bibit, pupuk, atau mesin. Ada unsur lain yang jauh lebih dalam: kejujuran, kebersamaan, musyawarah, dan tata kelola berbasis adat. Selama keujruen blang masih dihormati, Aceh memiliki benteng kearifan untuk menjaga hubungan manusia dengan alam, serta memastikan pangan tetap terjaga dalam keseimbangan yang penuh berkah.(Adv)












