Deputi Bank Indonesia perwakilan Maluku Utara, Setian memaparkan sejumlah strategi yang dilakukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) provinsi dan kabupaten/kota di Maluku Utara dalam mengendalikan inflasi di provinsi ini.
Pada triwulan III tahun 2022 pertumbuhan ekonomi Maluku Utara tercatat sebesar 24,8 persen, jauh lebih tinggi dibanding PDB nasional yang berada di angka 5,7 persen. Prestasi gemilang Maluku Utara di tengah pelemahan ekonomi global dan ancaman resesi ini ditopang oleh industri pengolahan dan pertambangan nikel.
Industri pengolahan berkontribusi sebesar 29,5 persen terhadap perekonomian Maluku Utara, sementara pertambangan sebesar 16,8 persen.
Strategi itu mencakup 4 K yakni Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi dan Komunikasi efektif. Strategi ini terbukti berhasil menempatkan Maluku Utara sebagai daerah dengan inflasi terendah di Indonesia.
Khusus untuk mewujudkan keterjangkauan harga, Bank Indonesia bersama TPID setempat rutin melakukan sidak di pasar dan memantau perkembangan harga komoditas yang dikonsumsi masyarakat serta melakukan operasi pasar murah.
Sedangkan untuk mewujudkan ketersediaan pasokan, Bank Indonesia bersama TPID turun langsung ke petani di sentra produksi, seperti di Kabupaten Halmahera Barat, Halmahera Timur, dan Kabupaten Halmahera Utara.
Selain itu, melakukan kerja sama dengan sejumlah provinsi di Sulawesi dan Jawa, seperti Sulawesi Utara dan Jawa Timur untuk mendukung ketersediaan pasokan kebutuhan pokok di Maluku Utara, terutama untuk kebutuhan pokok yang belum dapat dipenuhi sendiri di provinsi ini.












