LM-Imunisasi merupakan salah satu cara untuk melindungi diri dari berbagai macam penyakit. Umumnya, kegiatan imunisasi atau vaksinasi dilakukan sejak bayi pada saat masa imunisasi yang bermanfaat untuk membentuk kekebalan tubuhnya. Bahkan, di Indonesia sendiri ada 5 jenis imunisasi yang wajib diberikan pada anak. Apa sajakah itu?
Sekilas tentang daya tahan tubuh
Tubuh manusia sebetulnya secara alami memiliki kemampuan untuk mendeteksi suatu penyakit. Makanya, beberapa jenis penyakit seperti batuk, pilek, dan demam ringan dapat sembuh sendiri tanpa perlu minum obat.
Itu artinya, sistem imun tubuh manusia bisa dibilang cukup untuk mengalahkan kuman atau bakteri penyebab penyakit tersebut.
Sistem imun sendiri adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari kumpulan sel yang bekerja sama untuk melawan benda asing, seperti kuman penyakit hingga racun yang masuk ke dalam tubuh.
Akan tetapi, lain ceritanya jika kuman penyakit tergolong ganas atau berbahaya, sistem imun tubuh mungkin tidak mampu melawannya.
Apalagi kalau daya tahan tubuh kita cenderung lemah, tubuh tidak akan mampu mencegah perkembangbiakan kuman atau penyakit yang masuk. Bisa saja bukan cuma menyebabkan tubuh jatuh sakit, hal ini juga dapat memicu penyakit berat yang membawa kecacatan hingga kematian.
Apa itu imunisasi?
Imunisasi berasal dari kata “imun” yang berarti resisten atau kebal. Imunisasi adalah proses memasukkan sejenis antibodi ke dalam tubuh untuk meningkatkan sistem imun terhadap penyakit.
Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan pada penyakit tertentu saja. Maka dari itu, setiap orang membutuhkan beberapa jenis imunisasi agar terhindar dari penyakit lainnya.
Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa. Selain untuk meningkatkan kekebalan, imunisasi ini juga dapat mengurangi angka kematian dan kecacatan yang sangat membahayakan kesehatan.
Apa saja manfaat imunisasi dan adakah efek sampingnya?
Salah satu manfaat imunisasi yang paling utama adalah terbentuknya pertahanan tubuh seumur hidup. Selain itu, imunisasi juga tergolong murah, efektif, dan tidak berbahaya. Tentu tidak akan sebanding dengan potensi komplikasi yang timbul apabila terserang penyakit tersebut secara alami.
Berkat imunisasi pula, jumlah pasien yang perlu mendapat perawatan menjadi berkurang sehingga masyarakat tidak terbebani dengan biaya pengobatan dan perawatan di rumah sakit. Dalam jangka panjang, pemenuhan imunisasi akan meningkatkan kualtias hidup anak dan meningkatkan produktivitasnya di masa mendatang.
Namun, sama seperti obat-obatan lainnya, imunisasi juga tetap bisa menimbulkan reaksi efek samping tertentu pada sebagian orang dan biasanya tergolong ringan.
*Sejumlah efek samping imunisasi tersebut antara lain:*
Nyeri atau bekas kemerahan di area kulit yang disuntik
Demam
Pusing
Mual
Hilangnya nafsu makan
Efek samping imunisasi yang tergolong parah bisa menyebabkan kejang dan reaksi alergi, tetapi ini jarang sekali terjadi. Bila itu terjadi pada anak, segera bawa si kecil ke dokter anak terdekat.
Jenis-jenis imunisasi
Di Indonesia, ada 5 jenis vaksin yang wajib diberikan untuk anak, yaitu:
Vaksin hepatitis B
Vaksin hepatitis B paling baik diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir dan didahului pemberian injeksi vitamin K1. Hal tersebut penting untuk mencegah terjadinya perdarahan akibat defisiensi vitamin K.
Bayi yang lahir dari ibu HbsAg positif dapat diberikan vaksin hepatitis B dan HBIg pada ekstremitas yang berbeda. Ini dilakukan untuk mencegah infeksi perinatal yang beresiko tinggi terhadap hepatitis B kronik. Vaksinasi hepatitis B selanjutnya dapat menggunakan vaksin hepatitis B monovalen atau vaksin kombinasi.
Vaksin polio
Pada saat bayi lahir atau saat dipulangkan, bayi harus diberikan vaksin polio oral (OPV-0). Selanjutnya, polio-1, polio-2, polio-3 dan polio booster dapat diberikan dengan vaksin polio oral (OPV) atau inaktivasi (IPV).
Setidaknya, bayi perlu mendapatkan satu dosis vaksin polio IPV. Fungsi vaksin polio ini adalah untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit polio myelitis.
Vaksin BCG
Pemberian vaksin BCG dianjurkan sebelum anak usia 3 bulan dan lebih optimal lagi jika diberikan pada umur 2 bulan. Fungsi vaksin BCG ini adalah untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit tuberkulosis (TBC).
Apabila diberikan sesudah umur 3 bulan, perlu dilakukan uji antibodi pada bayi. Pasalnya, kekebalan yang diperoleh anak nantinya tidak mutlak 100%. Jadi, ada kemungkinan anak akan menderita penyakit TBC ringan, tetapi tetap terhindar dari TBC berat.
Vaksin DTP
Vaksin DTP pertama diberikan paling cepat pada saat bayi berumur 6 minggu. Hal ini dapat berupa vaksin DTwP atau DtaP atau dikombinasikan dengan vaksin lain.
Untuk anak umur lebih dari 7 tahun, jenis vaksin DTP yang diberikan harus vaksin Td dan diberikan vaksin booster setiap 10 tahun. Hal ini berguna untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit difteri, pertusis, tetanus.
Vaksin campak
Imunisasi campak diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat bayi berusia 9 bulan, 2 tahun, dan pada saat SD kelas 1, untuk membentuk kekebalan terhadap penyakit campak. Anak yang telah mendapat imunisasi MMR pada umur 15 bulan, tidak perlu diberikan imunisasi campak saat umur 2 tahun.
Selain kelima jenis imunisasi di atas, masih ada banyak jenis vaksin lainnya seperti vaksin pneumokokus, vaksin rotavirus, vaksin varicella, vaksin influenza, vaksin tifus, vaksin hepatitis A, dan vaksin human papilloma virus (HPV). Jenis-jenis vaksin ini tidak diwajibkan, tetapi tetap direkomendasikan supaya kekebalan tubuh anak semakin kuat.
Imunisasi merupakan bagian yang penting dalam tahap kehidupan seorang anak karena berfungsi untuk mencegah terkena penyakit infeksi. Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua dan petugas kesehatan untuk memastikan seorang anak mengikuti jadwal imunisasi yang telah ditentukan.
Kepala Dinas Kesehatan Aceh, mengatakan, selama tiga tahun terakhir persentase imunisasi anak di Aceh menurun drastis.
Bahkan Aceh menempati posisi ketiga paling rendah secara nasional. Hal tersebut berdampak terhadap meningkatnya jumlah anak di Aceh yang mengalami penyakit menular seperti campak, rubella dan hepatitis.
“Banyak anak meninggal akibat berbagai penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan adanya imunisasi, kita harus menyukseskan imunisasi anak sebagaimana suksesnya vaksin Covid-19,” nya.
Ia mengajak mereka yang memiliki anak untuk melakukan imunisasi sesuai tahapan waktunya ke fasilitas layanan kesehatan terdekat.
Hanif juga menyayangkan banyaknya kabar bohong seputaran imunisasi anak di media sosial.
Hal tersebut berdampak pada menurunnya presentase anak yang diimunisasi. Padahal menurut Sekda Aceh itu, anak yang sehat begitu penting dipersiapkan untuk generasi bangsa yang mendatang.
Lebih lanjut, Hanif mengajak semua pihak untuk menyukseskan program pemerintah berupa Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) dengan datang membawa anak berusia 9 bulan sampai 15 tahun ke fasilitas kesehatan terdekat.
Nantinya anak akan diberikan imunisasi untuk mencegah penyakit campak-rubella, Polio, difteri, pertusis, tetanus dan hepatitis.
Kepala Dinas Kesehatan Aceh itu menambahkan, BIAN perlu dilaksanakan untuk mengeliminasi penyakit menular pada anak di tahun 2023. Ia mengatakan, cakupan imunisasi rutin di Aceh mengalami penurunan hingga menyebabkan meningkatnya kasus.
“Masyarakat dapat mengakses imunisasi anak ke fasilitas kesehatan terdekat seperti puskesmas, rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, klinik, praktik bidan dan pos pelayanan di sekolah dan dayah,” sebut Hanif.
Adalah Leni Safitri, ia adalah ibu dari anak laki-laki yang berumur dua bulan setengah. Ia harus kehilangan buah hati tercintanya itu akibat penyakit Pertusis yang menyerang. Ia tak mampu membendung tangisan saat menceritakan hal tersebut, hingga suaranya terbata-bata saat menceritakan anaknya.
“Pada tanggal 21 April 2022 anak saya dirawat di RSUDZA. Sebelumnya dirawat di RS Ibnu Sina Aceh Besar karena demam, batuk terus menerus tidak berhenti selama 8 hari kemudian mengalami sesak napas. Selama dirawat anak saya sempat kejang beberapa kali. Setelah dirawat 3 hari, sesaknya makin berat, sehingga dirujuk ke RSUDZA,” kata Leni.
Oleh sebab kondisi anaknya semakin berat, kata Leni, maka dirawat di ICU anak sampai harus memakai alat bantu pernapasan. Kata dokter anaknya mengalami penyakit pertusis yaitu batuk sampai seratus hari hingga sesak napas.
“Menurut dokter, penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi. Anak saya memang tidak saya imunisasi karena saya takut anak saya demam setelah di imunisasi,” kata Leni.
Leni berharap tidak ada lagi orang tua yang mengalami kejadian seperti yang dialaminya. Oleh karenanya, ia mengajak semua pihak berikhtiar dengan melakukan imunisasi untuk anak-anak , agar mereka terhindar dari penyakit berbahaya. Sehingga bisa tetap sehat, tumbuh dewasa, berguna bagi keluarga, agama, bangsa dan negara.
“Pada tanggal 21 April 2022 anak saya dirawat di RSUDZA. Sebelumnya dirawat di RS Ibnu Sina Aceh Besar karena demam, batuk terus menerus tidak berhenti selama 8 hari kemudian mengalami sesak napas. Selama dirawat anak saya sempat kejang beberapa kali. Setelah dirawat 3 hari, sesaknya makin berat, sehingga dirujuk ke RSUDZA,” kata Leni.
Oleh sebab kondisi anaknya semakin berat, kata Leni, maka dirawat di ICU anak sampai harus memakai alat bantu pernapasan. Kata dokter anaknya mengalami penyakit pertusis yaitu batuk sampai seratus hari hingga sesak napas.
“Menurut dokter, penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi. Anak saya memang tidak saya imunisasi karena saya takut anak saya demam setelah di imunisasi,” kata Leni.
Leni berharap tidak ada lagi orang tua yang mengalami kejadian seperti yang dialaminya. Oleh karenanya, ia mengajak semua pihak berikhtiar dengan melakukan imunisasi untuk anak-anak , agar mereka terhindar dari penyakit berbahaya. Sehingga bisa tetap sehat, tumbuh dewasa, berguna bagi keluarga, agama, bangsa dan negara. [adv]












