Scroll untuk baca artikel
AdvertorialWisata

Mawah dan Makna Solidaritas: Dari Peternakan hingga Pemberdayaan Sosial

0
×

Mawah dan Makna Solidaritas: Dari Peternakan hingga Pemberdayaan Sosial

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi.

Membicarakan mawah tidak cukup hanya dari sisi ekonomi atau adat. Mawah adalah jantung solidaritas sosial masyarakat Aceh, sebuah warisan budaya yang memadukan nilai kepercayaan, ibadah sosial, dan pemberdayaan ekonomi. Tradisi ini sejak dahulu menjadi instrumen yang membantu golongan lemah—anak yatim, janda, perempuan tanpa penghasilan, hingga masyarakat dengan ekonomi terbatas. Dengan sistem berbagi hasil, mawah menjadi solusi sosial berbasis budaya yang telah terbukti efektif lintas generasi.

Dalam berbagai gampong, mawah kerap diberikan oleh tokoh masyarakat atau keluarga mampu kepada warga dhuafa sebagai bentuk sedekah produktif. Berbeda dengan bantuan konsumtif yang hanya menyelesaikan masalah sesaat, mawah menawarkan jalan keluar jangka panjang. Misalnya, seorang janda diberi seekor kambing untuk dipelihara. Ketika kambing itu berkembang biak, hasilnya dibagi dua: satu untuk pemelihara, satu untuk pemilik modal. Namun nilai moralnya lebih dari sekadar pembagian hasil; pemberian itu membuka peluang bagi keluarga penerima untuk belajar merawat ternak, menghasilkan keuntungan, dan meningkatkan taraf hidup secara bertahap. Dalam konsep modern, sistem ini relevan dengan istilah micro empowerment, tetapi mawah telah mempraktikkannya jauh sebelum istilah tersebut dikenal luas.

Table of Contents

Ilustrasi.

Mawah juga telah menjadi pilar pendukung lembaga-lembaga sosial seperti dayah (pesantren), meunasah, dan masjid desa. Banyak hewan qurban, sedekah, atau hibah masyarakat diberikan kepada lembaga-lembaga ini, kemudian “dimawah-kan” kepada warga yang mampu merawatnya. Hasilnya, sebagian keuntungan yang kembali ke lembaga tersebut menjadi sumber pendanaan untuk operasional pendidikan, kegiatan sosial, dan pemeliharaan fasilitas. Bahkan, beberapa dayah besar di Aceh saat ini memiliki ratusan ekor ternak hasil mawah, yang setiap tahunnya menjadi modal berputar bagi kebutuhan dayah. Sistem ini membuktikan bahwa mawah mampu menjadi penggerak ekonomi lembaga pendidikan tradisional secara mandiri, tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan pemerintah.

Eksplorasi konten lain dari LiniMedia

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca