Fahmy menjelaskan tingkat RON dalam bensin bisa menentukan harga jualnya. Mengingat RON ini juga menjadi dasar kualitas produk bensin. Semakin tinggi tingkatnya, maka semakin rendah kontribusi polusi yang dihasilkan oleh kendaraan. Sehingga, seharusnya Revvo 89 dan Pertalite harga jualnya tidak jauh berbeda.
“RON 89 dan RON 90 ini kualitasnya hampir sama, harusnya harganya tidak boleh jomplang,” kata dia.
Di sisi lain, Fahmy memperkirakan, murahnya harga tersebut bisa jadi bagian dari strategi dagang Vivo menjual BBM. Memang harga jenis Revvo 89 sempat jauh lebih murah dari Pertalite.
Namun ada produk lainnya dijual dengan harga tinggi. Tercermin dari harga Revvo 92 dijual Rp 15.400 dan Revvo 95 sebesar Rp 16.100. “Revvo ini ada yang murah, tapi jenis lain ini kan bisa lebih mahal,” kata dia.
Apalagi, perusahaan bensin asing ini diperbolehkan menentukan sendiri harga jual BBM-nya. Ini yang menjadi dasar bagi perusahaan swasta mau buka cabang di Tanah Air. “Mereka masuk ke Indonesia ini karena bisa menetapkan harga sendiri. Bisa lebih murah atau mahal, makanya strateginya di harga,” kata dia.
Namun, belakangan murahnya harga Revvo 89 ini kabarnya mendapat sentilan dari Pemerintah. Maka, beberapa hari setelah kenaikan harga Pertalite, Revvo 89 naik menjadi Rp 10.900 per liter. Sedangkan harga Revvo jenis 92 dan Revvo 98 tidak mengalami perubahan.
Fahmy pun menyayangkan intervensi yang dilakukan pemerintah tersebut. Menurutnya, permintaan menaikkan harga BBM kepada perusahaan asing tidak boleh. Sebaliknya, perusahaan asing hanya melampirkan penetapan harga BBM-nya kepada pemerintah melalui Kementerian ESDM.












