
Meugang juga memiliki dimensi religius yang kuat. Tradisi ini selalu menyertai tiga momentum besar dalam kalender Islam: menyambut Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Saat Meugang menjelang Ramadan, masyarakat merayakan awal memasuki bulan puasa dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur. Pada Meugang Idul Fitri, tradisi ini menjadi simbol kemenangan setelah sebulan berpuasa. Sementara pada Idul Adha, Meugang seakan menguatkan nilai pengorbanan yang menjadi inti dari ibadah kurban. Dengan demikian, Meugang tidak berdiri sendiri sebagai ritual budaya, tetapi terikat harmonis dengan nilai-nilai religius yang memperkaya maknanya.
Dari sisi ekonomi, Meugang memberikan dampak signifikan bagi masyarakat lokal. Pada satu hari itu, aktivitas ekonomi meningkat tajam. Pedagang daging, penjual bumbu dapur, penyedia kayu bakar, hingga penjual alat masak merasakan berkahnya. Perputaran uang terjadi begitu cepat dan melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Namun, Meugang bukan sekadar ruang transaksi. Tradisi ini mengandung nilai etika ekonomi yang kuat. Banyak keluarga yang berkecukupan tidak hanya membeli daging untuk keluarganya, tetapi juga berbagi kepada tetangga, kaum dhuafa, atau mereka yang kesulitan ekonomi. Membagikan daging dianggap sebagai cara menjaga keadilan sosial, sekaligus memperkuat rasa kemanusiaan.
Meski demikian, tantangan modern tidak dapat dihindari. Harga daging yang kerap melambung tinggi membuat sebagian keluarga tidak mampu merayakan Meugang sebagaimana mestinya. Namun, seperti tradisi anyaman yang semakin kuat ketika ditarik dari dua sisi, Meugang tetap bertahan melalui solidaritas sosial. Masjid, lembaga sosial, komunitas pemuda, hingga para dermawan sering menginisiasi pembagian daging secara gratis. Kekuatan kolektif inilah yang menjaga Meugang tetap hidup, tanpa meninggalkan siapa pun.












