Ia juga menuturkan bahwa BFLF menyediakan fasilitas rumah singgah lengkap dengan makanan, minuman, dan tempat tidur gratis untuk pasien serta keluarga pendamping. Selain itu, ambulans juga disiapkan untuk kebutuhan transportasi.
“Pasien dan keluarga butuh tempat tinggal yang dekat dari rumah sakit. Saat ini, hampir seluruh operasional kami didukung oleh donatur, bukan dari rumah sakit. Pasien yang kami bantu umumnya menggunakan BPJS. Istri saya sendiri seorang dokter yang bekerja di RSUDZA,” kata dia.
Lebih lanjut, Michael menyebutkan pihaknya juga pernah membuat ruang bermain anak di rumah sakit, untuk mengurangi trauma pasien anak terhadap tenaga medis.
“Kami bahkan sempat menghadirkan relawan untuk mengajar anak-anak yang sedang menjalani pengobatan kanker. Kami percaya penanganan ini harus melibatkan banyak pihak, termasuk dalam hal edukasi, pengawasan makanan sehat di rumah dan sekolah,” tambahnya.
Menanggapi paparan tersebut, Diza menyambut baik inisiatif dan pengalaman BFLF. Ia menyatakan kesiapan Pemkot Jambi untuk belajar dan mengadopsi model yang sudah dijalankan yayasan tersebut.
“Kami ingin mencontoh model yayasan seperti BFLF yang bisa membantu pemerintah dalam menangani persoalan ini. Ke depan, kami berencana mengundang Pak Michael ke Jambi untuk melihat langsung kondisi lapangan dan melakukan pembahasan lebih lanjut,” pungkasnya.
Diza juga menyatakan keinginannya untuk berkunjung langsung ke Aceh dan melihat rumah singgah BFLF serta layanan onkologi di RSUD Zainoel Abidin, Banda Aceh.***












