Mestinya sebagai tokoh besar Parpol, Megawati menurut Najmuddin harus pandai memilih pesan-pesan politik walau lewat bercanda. Najmuddin melihat dari keseluruhan momen ultah PDIP kemarin, terlihat Megawati ingin dinilai lebih kharismatik dan punya kepemimpinan lebih kuat dari seorang Jokowi.
Namun anehnya lanjut Najmuddin, Jokowi pada momen tersebut terlihat santai saja. Seharusnya sebagai seorang kepala negara, Jokowi memberi kesan bahwa ia tersinggung dengan candaan Mega tersebut.
“Jokowi sebagai seorang Kepala negara justru tidak memperlihatkan Ketersinggungan. Hal ini menurut saya pertaruhan kredibilitas kualitas leadership dan kharismatik,” ujar Najmuddin.
Sementara itu, pengamat politik Universitas Airlangga Surabaya, Haryadi, menyebut pidato Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dalam HUT Ke-50 partai tersebut tidak mengerdilkan posisi Presiden Joko Widodo.
“Harus dipahami bahwa memang acara itu dimaksudkan sebagai perayaan di dalam keluarga besar dan masyarakat biasa. Sebab sejak awal didesain merupakan acara internal partai,” kata Haryadi dalam keterangan yang diterima di Surabaya, Jumat.
Menurut dia, yang paling banyak diundang hadir adalah level Akar Rumput yaitu pengurus ranting partai dan Satgas Cakra Buana. Karena itu, pimpinan partai politik lain yang merupakan level elite memang tak diundang. Bahkan level menteri di kabinet Presiden Joko Widodo tak semuanya diundang.
“Layaknya dalam keluarga, bisa lebih terbuka dalam berbicara. Pesan sebagai keluarga besar adalah ciri khas Bu Mega untuk membangun internal political market dan militansi para kader. PDIP termasuk salah satu partai yang dengan political ID atau identitas politik yang paling kuat. Itu berkat kekuatan mesin politik internal yang dibangun Bu Mega selama bertahun-tahun,” ucap Haryadi juga menjabat sebagai komisaris utama PT Brantas Abipraya (Persero) itu(Republika.co.id)










